Tabanan – Warga Desa Kerambitan tidak surut langkahnya membawa sampah plastik telah dikumpulkan meski diguyur hujan ke Puri Anyar. Tidak kalah semangat, sejumlah relawan gerakan edukusai dalam aksi (Plastik Exchange) melayani warga satu persatu. Menimbang, mencatat dan menukar sampah dengan beras.

Kegiatan ini ternyata mendapat simpati warga negara asing (WNA) dari belahan dunia yang ikut berpartisipasi sebagai sponsor di Puri Anyar Kerambitan Tabanan Bali, Minggu (28/02).

Tokoh Puri Anyar Kerambitan Anak Agung Ngurah Bagus Erawan mengatakan, hadirnya tamu asing sebagai spinsor merupakan wujud nyata kepedulian mereka terhadap lingkungan Bali agar bebas dari sampah plastik.

“Kegiatan ini wujud kepedulian kami (Puri, red) terhadap masyarakat. Memberikan mereka pendidikan, kebersihan lingkungan, mewujudkan lingkungan Bali bebas dari sampah plastik. Bersama mereka bule-bule, ikut dalam program Plastic Exchange, menunjukkan akan kecintaannya terhadap Bali,” ungkap Tu Rah Bagus Erawan.

Keterlibatan warga asing ini sendiri, dikatakan Tu Rah Bagus Erawan berawal dari pertemanan dan kunjungan mereka ke Puri. Mengetahui sejarah keberadaan Puri mendorong niat mereka ingin ikut membantu masyarakat dan terlibat dalam upaya mewujudkan Bali bebas sampah plastik.

I Made Janur Yasa, Founder Plastic Exchange Bali menerangkan Eduaksi Plastik Exchange ini dilakukan untuk membangun kesadaran masyarakat. Membebaskan lingkungan dari sampah plastik yang berbahaya. Gerakan dibangun sinergi dengan warga negara asing baik investor maupun wisatawan ini, mengajak masyarakat mengumpulkan dan memilah sampah dari hulunya, yakni rumah masing-masing.

“Program Plastic Exchange ini adalah Eduaksi (edukasi dalam aksi). Apa maksudnya, yaitu kita mengedukasi masyarakat untuk memungut sampah, terutama sampah plastik dari sumbernya yakni dari rumahnya dulu. Ini wujud semangat kita memerangi sampah plastik dari sumbernya, sumbernya di mana ya di rumah masing-masing, kemudian baru keluar di lingkungan sekitar rumah kita,” ujarnya.

Bagian terpenting dalam pengelolaan sampah plastik, katanya, adalah pemilahan. Untuk itu gerakan ini mengedukasi dan memotivasi masyarakat untuk memilah sampah plastik mulai dari rumah masing-masing dimana sampah plastik itu dihasilkan. Ia mengatakan ada 7 kriteria, mulai dari sampah plastik lembaran, botol, karton hingga besi. Masing-masing kriteria bernilai tersendiri. Namun nilai tertinggi justru sampah plastik lembaran.

Secara ekonomis kategori ini memang tidak terlalu bernilai. Namun justru disana semangat sosialnya, agar masyarakat termotivasi memungut dan memilahnya, karena sampah plastik jenis ini jumlahnya paling banyak dan paling sulit dibersihkan dari lingkungan.

“Jadi yang kita lakukan dalam Eduaksi ini pengolahan sampah plastik, terutama pemilahan karena bagian yang paling penting dalam penanganan sampah plastik adalah pemilahan. Jadi sampah plastik yang dibawa ke sini harus sudah dipilah juga dari jenis organik dan non organik. jadi pemilahannya mulai dari rumah tangga dilakukan oleh bapak ibu dan anak yang ada di tiap rumah,” ujarnya.

“Kita punya 7 kriteria, pertama plastik lembaran ini yang paling sulit dipungut dan jika dijual tidak ada harganya justru kita kasi harga yang paling mahal tujuannya agar masyarakat mau memungutnya. Kemudian ada jenis botol, ada besi, karton. kita pilah sesuaikan harganya,” paparnya.

Meski demikian, pemberian beras dengan menukar sampah plastik ini hanya upaya untuk memotivasi masyarakat. Tujuannya untuk memberikan dorongan awal. Tujuan utamanya agar masyarakat terbiasa memilah dan menjaga lingkungan sekitarnya dari pencemaran sampah plastik.

“Ada tiga roh dari Plastik Exchange ini, yang pertama Jati Diri, artinya kita bisa membersihkan rumah atau lingkungan. Kedua Prosperity, mereka bisa mendapatkan beras, bawa plastik dapat beras. Namun ini jangka pendek. Kemudian yang ke tiga Kebersihan Lingkungan. Kalau lingkungan sudah bersih ini kita bisa jual, Bali sudah biasa terkenal dengan budaya, nah ini juga kebersihan nanti kita bisa jual (daya tarik wisata, red),” tandasnya.

Gil Pitersil juga Founder Plastic Exchange pada kesempatan yang sama mengaku bangga dapat ikut peduli dengan alam Bali. Ia sangat senang dapat ikut berkontribusi untuk membebaskan lingkungan Bali dari pencemaran sampah plastik. Gil mengatakan banyak orang luar yang peduli dan mau membantu, oleh karena itu ia mengajak relasi dan teman-temannya datang untuk ikut berpartisipasi.

“Saya sangat senang dengan konsep ini. Saya dapat berpartisipasi membersihkan lingkungan di Bali dari sampah plastik. Sangat menginspirasi, Bali dapat menjadi contoh dunia bagaimana kita menangani sampah plastik. Banyak orang dari luar yang datang dan tinggal di Bali yang juga peduli dan mau ikut membantu menjaga kebersihan Bali, makanya kita ajak orang-orang kesini agar mereka dapat berpartisipasi,” ungkapnya.

Saat ini gerakan Eduaksi Plastik Exchange ini telah ada di 250 desa di Bali, di tahun 2021 ini Gil mengatakan ia ingin Plastic Exchange ada di 1000 desa di Bali. Gil mengaku tidak ingin hanya sebagai tamu di Bali tapi juga ikut berkontribusi untuk alam dan ekonomi Bali.

“Saya juga disini membantu Plastik Exchange karena saya juga salah satu pendiri Plastik Exchange. Tahun 2021 ini kita ingin membuat Plastik Exchange ada di 1000 banjar di Bali, sekarang kita sudah punya 250. Jadi 750 lagi kita semangat. Kita tidak hanya ingin menjadi tamu di Bali kami juga ingin berkontribusi untuk kelangsungan lingkungan dan ekonomi Bali,” tandasnya.

Sementara itu I Gede Arya Wiguna salah satu warga Desa Kerambitan asal Banjar Baturiti Tengah, Kerambitan mengaku semangat mengumpulkan dan memilah sampah. Satu minggu ia mengatakan dapat mengumpulkan 10 kilogram sampah, 2 kilogram diantaranya adalah sampah plastik. “Satu minggu kalau rongsokannya dapat 10 kilo, plastiknya 2 kilo dapat beras 2 kilo. Bulan ini sudah 2 kali. Pokoknya lanjut terus,” katanya. (wb)