Denpasar – Akademisi Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar Drs. Ketut Donder Ph.D menerangkan rahina (hari) Saraswati diperingati setiap 210 hari atau 6 bulan sekali dimaknai sebagai mengalirnya ilmu pengetahuan.

Hari Saraswati diperingati pada Saniscara Umanis Watugunung (siklus 210 hari penanggalan pawukon), Sabtu 20 Mei 2023, merupakan penghayatan terhadap manifestasi Tuhan dalam ilmu pengetahuan yang dipersonifikasikan sebagi Dewi Saraswati.

“Saraswati itu berasal dari kata ‘saras’ yang artinya mengalir dan ‘wati’ artinya sebagai keindahan. Pengetahuan tentang keindahan itulah yang dialirkan oleh Tuhan dalam manifestasi beliau sebagai Dewi Saraswati,” jelasnya saat diwawancarai wacanabali.com, Sabtu (20/5/2023) di Denpasar.

Pihaknya menyebutkan, terdapat dua paradigma dalam pengetahuan Hindu yakni aparawidya (pengetahuan duniawi) dan parawidya (pengetahuan spiritual).

Baca Juga  Pantang Baca Buku saat Saraswati, Akademisi Hindu: Ini Logika Spiritual

“Yang dimaksudkan parawidya juga pengetahuan diri sendiri. Sebab dalam veda dinyatakan baik atman (percikan terkecil Ida Sang Hyang Widhi Wasa) dan Brahman (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) adalah tunggal,” terangnya.

Ketut Donder menjelaskan, pada zaman kaliyuga manusia dominan menyukai hal-hal yang bersifat material. Sehingga, kerap kali tidak mengindahkan pengetahuan parawidya sebagai bentuk realisasi diri.

“Saat ini kita cenderung fokus pada euforia dari perayaan saraswati hingga lupa akan esensinya,” imbuhnya.

Menurutnya, perayaan hari Saraswati semestinya menjadi refleksi untuk meningkatkan kualitas pemahaman manusia.
“Baik itu pemahaman akan satyam (kebenaran), siwam (kebijaksanaan) dan sundaram (keindahan),” tutupnya.

Reporter: Komang Ari
Editor: Ady Irawan