Denpasar – Perayaan hari Pagerwesi diperingati setiap 210 hari sekali atau menurut perhitungan kalender Bali jatuh pada Budha Kliwon Wuku Sinta.

Budayawan Bali Cokorda Sawitri mengatakan, perayaan hari Pagerwesi jika merujuk pada lontar Sundarigama mengisyaratkan pemujaan terhadap Sang Hyang Pramesti Guru.

“Tentu, banyak pula masih mengartikan secara harfiah perayaan ini bertujuan memagari diri seperti pagar besi yang kuat dengan pengetahuan. Mungkin karena mencari arti dari kata: pager, pageh, atau paguan,” ujarnya saat di Denpasar, Rabu (24/5/2023).

Namun secara filosofis, Cok Sawitri menjelaskan, pemaknaan Pagerwesi ditujukan pada pentingnya sikap rendah hati yang semestinya dimiliki setiap manusia untuk senantiasa berguru pada kehidupan.

Baca Juga  Pagerwesi, Momentum Membangun Tekad “Magehin Gumi Bali”

“Pagerwesi ini mengajarkan kita pengetahuan hidup, untuk senantiasa belajar pada Sang Maha Guru (Ida Sang Hyang Widhi Wasa, red),” jelasnya.

Perayaan Pagerwesi, katanya lebih lanjut, adalah refleksi terhadap kesadaran diri sendiri, jadi perayaannya tidak cukup dilaksanakan dengan ritual semata.

“Pagerwesi mendorong keteguhan untuk jernih selalu, sebab pengetahuan akan agama ini bermata dua bisa menjadikan siapa saja welas asih atau sebaliknya,” katanya.

“Kalau hanya dengan mebanten (ritual) saja susah. Kita harus banyak-banyak belajar, mau introspeksi diri dalam memaknai perayaan pagerwesi,” tandasnya.

Reporter: Komang Ari
Editor: Ady Irawan