Jangan Jual Murah Pariwisata Bali!
Denpasar – Pariwisata Bali dinilai sudah kalah dengan obyek pariwisata lain di Indonesia dari beberapa aspek, lantaran dijual murah. Hal tersebut diungkapkan oleh salah satu mantan praktisi pariwisata yang enggan disebutkan namanya.
“Ini bukan menakut-nakuti tetapi fakta yang terjadi, seperti harga makanan yang kalah jauh dari Pulau Komodo. Bayangkan saja turis (wisatawan) bisa dapat makanan khas Bali yang murah. Sedangkan ini tidak sebanding dengan citra Bali sebagai obyek wisata nomor 2 di dunia.”
“Harusnya insan pariwisata melakukan pertemuan agar menemukan jalan keluar karena Bali dianggap murah di luar negeri,” katanya kepada wacanabali.com, Jumat (16/5/23).
Dirinya menyampaikan bahwa kita selama ini hanya tertarik dengan wisatawan saja tidak dengan harga wisatawan itu sendiri.
“Saran saya jika turis memang menghormati budaya dan tempat suci diizinkan masuk ke tempat, mereka harus berpakaian komplit seperti budaya kita kain, udeng, saput serta wisatawan perempuan mengenakan kain dan kebaya,” sarannya.
Perlengkapan tersebut, tandasnya, dapat disiapkan oleh penyedia jasa travel serta mengedukasi tata cara berpakaian rapi. Penyedia jasa travel membeli perlengkapan-perlengkapan tersebut di pengusaha lokal dan mereka dapat memasukkan harga pakaian dalam paket wisata mereka.
Hal ini didasari banyaknya wisatawan ingin tahu keindahan tempat-tempat suci di Bali bahkan mereka mau sembahyang.
“Contoh yang terjadi di Roma. Mengunjungi St. Peter, gereja Katolik di Roma kita harus pakaian rapi tak boleh pakai sandal dan celana pendek. Kalau melanggar mereka tidak diizinkan masuk ke dalam St. Peters,” tutupnya.
Sementara itu terpisah, Ketua Aliansi Masyarakat Pariwisata Bali, Dr Gusti Kade Sutawa mengatakan pihaknya sedang melakukan berbagai upaya guna meningkatkan kualitas wisatawan yang masuk ke Bali.
“Kami sudah mulai mendiskusikan upaya guna meningkatkan kualitas wisatawan yang masuk ke Bali untuk ke depannya. Seperti akan mulai menggunakan uang jaminan di rekening turis dengan saldo minimalnya,” ujarnya.
Selain itu, ia mengatakan bahwa Visa on Arrival (VoA) juga akan dinaikan harganya guna meminimalisir banyaknya wisatawan bermasalah yang masuk ke Bali.
“VoA memang dulu diturunkan harganya bahkan sampai digratiskan guna memenuhi jumlah kamar selama pandemi Covid-19 pada tahun 2020. Sekarang kita kembali naikan harganya untuk menjaga kualitas wisatawan,” pungkas Gusti Sutawa yang juga Ketua Umum DPP Nawa Cita Pariwisata Indonesia ini.
Reporter: Dewa Fathur
Editor: Ady Irawan

Tinggalkan Balasan