Denpasar – Dekan Fakultas Brahma Widya UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar I Made Girinata menilai maraknya penjual banten (persembahan dalam agama hindu) dapat menimbulkan problema baru bagi umat Hindu di Bali.

“Lama-kelamaan berpotensi meruntuhkan penginvestasian modal sosial, resiprositas dan solidaritas sosial pada hubungan solidaritas atau ketetanggaan. Karena dulu pembuatan banten dilakukan secara kolektif (bersama-sama, red),” terangnya kepada wacanabali.com, Kamis (7/9/23).

Meski terkesan praktis, maraknya penjual banten, kata dia juga berpotensi mengancam terjadinya regenerasi keterampilan pembuatan banten di kalangan generasi muda.

“Penurunan kualitas ritual, karena makna yadnya bukan pada saat mempersembahkan saja, tetapi yadnya memiliki makna dari semenjak perencanaan, penyediaan sarana dan prasarana, kemudian proses pembuatan, dan terakhir mempersembahkan,” imbuh Akademisi Hindu ini.

Baca Juga  Dari 'WNA Nakal' hingga Pariwisata Berkelanjutan, Prof. Sumadi: Tanggung Jawab Bersama

Pihaknya berharap, masyarakat dapat membeli banten jika memang dalam kondisi mendesak saja dan tetap mengedepankan asas kehidupan kolektif ala masyarakat Bali.

“Jangan sampai setiap mengadakan ritual atau upacara yadnya dilakukan dengan membeli banten. Membuat banten sendiri di samping untuk keberlanjutan sebagai pelanjut tradisi juga sebuah ritual mengandung makna. Untuk itu agar nilai dan makna persembahan didapat secara totalitas kita harus dapat meluangkan dan mengatur waktu untuk kegiatan proses beryadnya,” tandasnya.

Sementara itu Ida Ayu Tirta Kaweri alias Dayu Tirta (20) salah seorang penjual banten di Denpasar mengaku senang bergelut di dunia tersebut. Terlebih, dia menjelaskan profesi tersebut membantu meringankan beban masyarakat Bali yang tidak fasih membuat banten.

Baca Juga  Bule Ciuman di Pura, Akademisi Hindu: Pariwisata dan Budaya Bertentangan!

“Banten nika (itu, red) pasti ada saja yang mencari. Mengingat, tak jarang masyarakat Bali berkeluh kesah tentang banten dan larinya pasti ke yang paham banten, salah satunya di griya (rumah pendeta di Bali, red),” imbuhnya.

Dirinya berpandangan, penjualan banten akan menjadi usaha yang menjanjikan di masa depan. Melalui usaha yang ditekuninya saat ini, Dayu Tirta mengaku meraup omzet 5 hingga 20 juta per bulan.

“Tentu potensinya sangat besar jika dibarengi dengan ketulusiklhasan dan ketekunan. Banten nika kan berkaitan dengan Hindu. Jadi, secara tidak langsung kita bisa paham terkait adat-istiadat serta kebudayaan Hindu,”

“Tapi perlu diingat, melaksanakan kegiatan menyangkut banten bukan ajang pencarian rupiah semata, tapi dengan niat tulus memang ingin membantu sesama,” tutupnya.

Baca Juga  Dari 'WNA Nakal' hingga Pariwisata Berkelanjutan, Prof. Sumadi: Tanggung Jawab Bersama

Reporter: Komang Ari
Editor: Ady Irawan