Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun, Jalan Panjang Menjaga Peradaban Nusantara
Denpasar – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa Bali tidak sedang membangun untuk lima atau sepuluh tahun ke depan, melainkan untuk satu abad ke depan. Melalui Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun, Bali diposisikan bukan sekadar sebagai destinasi pariwisata, tetapi sebagai benteng peradaban Nusantara yang harus tetap tegak di tengah gempuran globalisasi dunia.
Di saat banyak wilayah kehilangan identitas akibat modernisasi yang seragam dan tanpa kendali, Bali justru memilih jalan berbeda, tetap maju tanpa tercerabut dari akar. Koster menegaskan, kekuatan Bali bukan terletak pada penolakan terhadap perubahan, melainkan pada keberanian menjaga nilai saat dunia bergerak terlalu cepat.
“Dengan komitmen kuat melaksanakan Nangun Sat Kerthi Loka Bali sesuai Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun, saya yakin seyakin-yakinnya adat istiadat, tradisi, seni budaya, dan kearifan lokal Bali akan tetap eksis, bertahan selamanya, bahkan sepanjang zaman,” ujar Wayan Koster di Denpasar Bali, Senin (5/1/2026).
Menurutnya, globalisasi tidak boleh dihadapi dengan sikap menutup diri, tetapi juga tidak boleh diterima secara membabi buta. Arah pembangunan Bali, kata Koster, harus selaras dengan jati diri pulau ini yang berlandaskan adat, budaya, dan nilai spiritual yang hidup dalam keseharian masyarakat.
Ia menegaskan bahwa Bali bukan sekadar ruang ekonomi. Pariwisata memang penting, tetapi bukan satu-satunya orientasi. Bali adalah ruang peradaban yang hidup, di mana upacara adat, pura, sistem subak, bahasa, dan sastra tidak diperlakukan sebagai ornamen, melainkan sebagai fondasi kehidupan sosial dan spiritual.
“Inilah yang membuat Bali tetap berbeda di mata dunia,” tegasnya.
Koster juga menekankan bahwa modernitas tidak identik dengan penghapusan identitas. Bali, menurut Koster, justru membuktikan bahwa kemajuan dapat berjalan seiring dengan nilai luhur yang dijaga secara konsisten.
“Maka Bali akan maju dan modern, mengikuti perkembangan zaman dalam dinamika lokal, nasional, dan global,” katanya.
Ia mengingatkan, banyak destinasi dunia kehilangan jiwanya karena pembangunan yang lepas kendali. Bali memilih jalan yang lebih sulit untuk menegakkan batas. Tata ruang, lingkungan, dan kebudayaan tidak boleh dikorbankan demi kepentingan sesaat. Jika ruh Bali hilang, yang runtuh bukan hanya sebuah pulau, melainkan satu pilar penting peradaban Nusantara.
Melalui Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun, Pemerintah Provinsi Bali menempatkan kebudayaan sebagai poros utama pembangunan jangka panjang. Visi ini menjadi perisai agar Bali tidak larut dalam arus global yang kerap menggerus identitas lokal.
“Bali tidak menolak dunia. Bali berdiri sejajar dengan dunia,” pungkas Koster.
Di tengah dunia yang kian kehilangan arah dan makna, Bali kembali menegaskan sikapnya, melangkah ke depan dengan modernitas, namun tetap berpijak kuat pada nilai. Sebuah pilihan berat, namun itulah jalan Bali untuk menjaga peradaban, bukan hanya hari ini, tetapi hingga seratus tahun ke depan.

Tinggalkan Balasan