Denpasar – Merespons isu kekerasan seksual dan HIV dalam lensa interseksionalitas dan inklusivitas, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Daerah Bali menggandeng Gurat Institut untuk menggelar Pameran MANUSIA 4.0: Diver(city).

Untuk diketahui, pameran ini merupakan rangkaian dari program Indonesia Healthy Cities with Pride (IHCP) yang telah diselenggarakan sejak 2023 silam. Pameran MANUSIA dilaksanakan sejak tanggal 17 hingga 19 Januari 2026 di Berbagi Kopi, Peguyangan Kangin, Denpasar.

Program Manager IHCP oleh PKBI Daerah Bali Ni Kadek Sintya Anggreni berharap, pameran ini dapat menjadi ruang untuk menumbuhkan kesadaran dalam merespons isu kekerasan seksual dan HIV dan memastikan akses layanan yang lebih inklusif.

“Melalui kegiatan ini kami berharap agar masyarakat lebih aware terhadap isu HIV dan kekerasan seksual,” ucapnya kepada awak media.

Sementara itu, Kurator pameran MANUSIA 4.0, Savitri Sastrawan mengaku senang kembali terlibat sebagai kolaborator. Menurutnya, pameran kali ini terasa sangat berbeda dari pameran-pameran sebelumnya.

Baca Juga  Di Balik Aborsi, Sudahkah Pendidikan Kespro Memadai ?

“Yang kali ini benar-benar desain sebenarnya, karena bikin peta digital dan game digital. Beda banget dengan pameran sebelumnya yang masih berbasis artwork seperti lukisan atau patung,” ujarnya.

Tantangan terbesar, sambung Savitri, adalah mengolah data yang sangat padat menjadi visual yang menarik tanpa membebani pengunjung, sehingga pendekatan desain komunikasi visual dengan warna-warna cerah dipilih agar tetap mudah diakses.

Ia menambahkan, isu-isu sensitif yang sulit dibicarakan di ruang publik justru perlu dikemas secara menarik agar bisa memantik percakapan. Dengan mengajak seniman muda seperti Yessiow dan Kadek Bagaskara yang dikenal dengan visual karya yang cerah dan modern, pameran ini harapannya bisa memantik isu kesehatan dengan cara yang tidak ‘menakutkan’.

Salah satu fakta yang perlu mendapatkan perhatian bersama adalah hasil penelitian IHCP pada tahun 2024 yang menemukan adanya keengganan remaja untuk datang ke akses layanan kesehatan karena kurangnya akses informasi serta menariknya lembaga layanan. Ketika ditanyakan layanan dan diperlukan, sekitar 63,4% remaja menginginkan layanan konseling, diikuti oleh tes HIV (52,7%) dan tes Infeksi Menular Seksual atau IMS (44,5%). Fakta ini menunjukkan adanya kebutuhan untuk mengakses layanan, namun belum banyak lembaga yang dapat menarik sekaligus memberikan informasi lengkap terkait layanan kesehatan terkait.

Baca Juga  Ciderai Kemanusiaan, PKBI Bali Kecam Penggusuran Kantor PKBI Nasional

Namun demikian, temuan lain menunjukkan bahwa stigma berbasis gender masih kuat, di mana 33,6% responden meyakini pemerkosaan lebih sering dilakukan oleh laki-laki karena dianggap memiliki hasrat seksual tinggi. Hal ini menegaskan pentingnya penguatan edukasi yang sensitif gender dalam layanan kesehatan remaja.

Data-data ini divisualisasikan ke dalam infografis berbentuk Pulau Bali dan bersanding dengan beberapa karya seperti video Story of Change dari penerima manfaat program, modul fasilitator serta buku tentang interseksionalitas isu dan analisis kebijakan yang diproduksi selama program IHCP dijalankan.

Dalam dinamika berproses di IHCP, peserta pelatihan serta pihak-pihak yang terlibat pun berkontribusi pada karya photovoice yang dipamerkan di MANUSIA 4.0: Diver(city). Terdapat belasan foto sekaligus narasinya yang menceritakan bagaimana upaya mereka dalam membangun kota yang adil, setara, dan sehat, khususnya dalam isu HIV dan kekerasan seksual.

Baca Juga  Program Tantri, Upaya Kolektif untuk Merespons Isu Kekerasan Seksual dan Perkawinan Anak di Bali

Untuk membuat pameran lebih interaktif, di MANUSIA 4.0 ini, tim juga mengembangkan board game bertemakan alur jaringan rujukan untuk penyintas kekerasan seksual di kampus. Melalui board game ini, pemain diajak berperan sebagai pihak ketiga yang menyaksikan kejadian kekerasan seksual di kampus dan belajar menentukan langkah yang tepat.

Permainan ini juga memperkenalkan alur rujukan layanan kesehatan, termasuk bagi penyintas IMS dan Orang dengan HIV, mulai dari kontak pertama di lingkungan pendidikan hingga akses layanan lanjutan.