Gubernur Koster Arahkan Pengendalian Inflasi Bali melalui Penguatan Produksi dan Distribusi Pangan
WacanaBali.com, Denpasar – Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan upaya pengendalian inflasi kedepan harus dilakukan dengan penguatan produksi, ketersediaan pasokan, dan kelancaran distribusi.
Menurutnya, langkah itu sejalan dengan RPJMD Bali yang menempatkan sektor pertanian, pangan, dan ekonomi lokal sebagai fondasi pembangunan.
Hal itu disampaikan dalam High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) Provinsi Bali, Selasa (10/2/2026).
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali R. Erwin Soeriadimadja serta Deputi I Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional.
Koster mengatakan komoditas pangan menjadi salah satu faktor pembentuk inflasi di Bali. Untuk itu, ia menekankan agar pengendalian inflasi kedepan harus diarahkan pada penguatan kemandirian dan kedaulatan pangan daerah.
“Mulai dari peningkatan produksi, menjaga ketersedian pasokan, hingga memastikan kelancaran distribusi,” terangnya.
Hal senada disampaikan R. Erwin Soeriadimadja menurutnya menjaga volatilitas pangan harus menjadi perhatian kedepan. Ia mengatakan berdasarkan data, volatilitas harga pada tahun 2025 lebih tinggi dibandingkan tahun 2024, terutama pada komoditas cabai rawit, beras, bawang merah, telur ayam ras, dan daging ayam ras.
“Hal ini perlu kita perhatikan dan jaga stabilitasnya dan perlu kita perhatikan saat Hari Besar Keagamaan,” terangnya.
Sebelumnya, Koster mengapresiasi catatan inflasi Bali yang tergolong rendah pada tahun 2025. Ia mengatakan sepanjang tahun lalu inflasi Bali tercatat sebesar 2,91 persen (y-on-y) di bawah angka inflasi nasional 2,92 persen.
“Ini menunjukan kondisi inflasi di Bali terkendali dengan baik. Di tengah aktifitas peningkatan ekonomi dan sosial masyarakat,” terangnya.
Terkendalinya tingkat inflasi ini kata Koster juga seiring dengan pertumbuhan ekonomi Bali sebesar 5,82 persen pada tahun 2025. Koster mengatakan dengan angka pertumbuhan tersebut, Bali menempati peringkat lima pertumbuhan ekonomi nasional.
“Provinsi-provinsi di atas Bali umumnya merupakan daerah penghasil tambang. Kalau daerah tambang umumnya bekerja beberapa industri. Tapi kalau kita di Bali yang bergerak semua karena kita daerah wisata. Outlet bergerak, restoran, UMKM, hingga pelaku usaha lainya bergerak,” terangnya.

Tinggalkan Balasan