Wacanabali.com, Denpasar – Dinas Perhubungan Provinsi Bali meminta masyarakat segera melaporkan apabila menemukan armada Trans Metro Dewata yang mengeluarkan asap hitam saat beroperasi di jalan. Laporan dari masyarakat dinilai penting sebagai bahan evaluasi untuk memastikan seluruh armada tetap dalam kondisi laik jalan dan memberikan pelayanan yang aman bagi penumpang.

Kepala Dinas Perhubungan Bali, I Kadek Mudarta, menjelaskan bahwa operasional bus Trans Metro Dewata saat ini menggunakan sistem pembelian layanan atau buy the service. Skema tersebut telah mencakup biaya operasional seperti perawatan kendaraan, bahan bakar, hingga pengemudi sehingga tidak ada pengurangan anggaran pemeliharaan armada.

“Operasional TMD menggunakan sistem buy the service yang sudah termasuk biaya perawatan, bahan bakar, dan pengemudi. Jadi tidak benar jika ada anggapan asap hitam muncul karena pengurangan anggaran perawatan,” ujar Mudarta, Selasa (10/3/2026).

Baca Juga  Bali Mulai Uji Coba Bus Listrik, Target Transmetro Dewata Full Elektrik 2028

Menurutnya, munculnya asap hitam pada bus lebih sering disebabkan oleh faktor teknis dalam pengoperasian kendaraan. Misalnya saat pengemudi mengatur pedal gas atau melakukan perpindahan gigi yang kurang tepat sehingga memicu keluarnya asap dari knalpot kendaraan.

“Kadang-kadang asap itu muncul karena cara pengemudi mengatur gas atau perpindahan gigi. Hal seperti ini bisa terjadi saat bus beroperasi, tetapi tetap akan kami evaluasi,” jelasnya.

Meski demikian, pihaknya memastikan setiap laporan masyarakat akan segera ditindaklanjuti. Apabila ditemukan bus yang mengeluarkan asap hitam, Dishub akan langsung melakukan pemeriksaan dan perbaikan agar kendaraan kembali memenuhi standar operasional.

“Jika masyarakat menemukan bus yang mengeluarkan asap hitam, silakan laporkan ke kami. Masukan dari masyarakat sangat penting sebagai bahan evaluasi agar layanan tetap terjaga,” tegas Mudarta.

Baca Juga  Disayangkan Berbagai Pihak, Trans Metro Dewata Berhenti Beroperasi Mulai 1 Januari 2025

Di sisi lain, Dishub Bali mencatat jumlah penumpang harian Trans Metro Dewata terus menunjukkan tren peningkatan. Saat ini rata-rata penumpang harian mencapai sekitar 4.700 orang, naik sekitar 7 persen dibandingkan tahun 2024 yang berada di kisaran 4.400 penumpang per hari.

Mudarta mengatakan peningkatan tersebut mulai terlihat sejak pengelolaan Trans Metro Dewata dialihkan kepada pemerintah daerah pada 2025 melalui skema pembiayaan bersama antara pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota.

“Angkanya cukup baik. Walaupun ada yang mengatakan busnya sepi atau bus hantu, tapi kalau melihat data penumpang yang ada, sebenarnya cukup banyak masyarakat yang memanfaatkannya,” katanya.

Untuk mendukung perkembangan layanan transportasi publik tersebut, Pemerintah Provinsi Bali juga berencana menambah fasilitas pendukung berupa pembangunan dua halte baru pada tahun ini. Pembangunan halte tersebut akan dibiayai melalui APBD Provinsi Bali.

Baca Juga  TMD Kembali Beroperasi, Eka Budi: Kami Lega

Selain itu, pemerintah juga membuka peluang kerja sama dengan pihak swasta untuk membangun halte di sejumlah titik strategis guna meningkatkan kenyamanan pengguna transportasi umum.

“Rencananya satu halte akan dibangun di kawasan Kuta Plaza dan satu lagi direncanakan di depan Cineplex Denpasar. Namun untuk lokasi kedua masih dalam tahap kajian,” ujar Mudarta.

Ia menambahkan bahwa jaringan layanan Trans Metro Dewata pada tahun ini tetap beroperasi dengan enam koridor seperti tahun sebelumnya. Sementara layanan Trans Sarbagita difokuskan pada satu koridor utama yang melayani rute dari GOR Ngurah Rai menuju kawasan Bukit Jimbaran.

“Koridor Trans Metro Dewata masih tetap enam seperti tahun lalu. Sedangkan Trans Sarbagita difokuskan satu koridor dari GOR Ngurah Rai menuju Bukit Jimbaran,” jelasnya.