Denpasar – Bali mengalami deflasi hingga minus 0,02 persen pada bulan Januari 2025.

Hal itu diungkap oleh Plt. Ketua Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali Kadek Agus Wirawan, di Denpasar, Senin (3/1/25).

Ia menjelaskan, komoditas penyumbang terbesar deflasi saat ini adalah tarif listrik. Diketahui, sebelumnya PLN memberikan potongan harga atau diskon sebesar 50 persen kepada pelanggan rumah tangga dengan daya listrik 450 VA, 900 VA, 1.300 VA, dan 2.200 VA sejak bulan Januari hingga Februari 2025.

“Diskon atau tarif listrik ini dinikmati oleh banyak orang. Jadi hampir semua lapisan masyarakat yang memiliki kapasitas listrik terpasang itu sampai dengan 2200 VA itu menikmati diskon tarif listrik ini sehingga tetap tercatat pada penghitungan inflasi,” kata dia.

Baca Juga  BPS Catat Kunjungan Wisman ke Bali Tahun 2024 Meningkat 20,1 Persen

“Jadi ini memberikan andil paling besar terhadap deflasi yaitu sebesar minus 1,43 persen,” sambungnya.

Ia menambahkan, penyumbang deflasi berikutnya adalah canang sari, penurunan tarif angkutan, serta komoditas salak.

Sedangkan, lima komoditas dengan andil terbesar menahan deflasi atau memberikan inflasi terhadap harga barang dan jasa secara umum antara lain cabai rawit dengan andil sebesar 0,39 persen, cabai merah 0,24 persen, kangkung 0,06 persen, sawi hijau 0,05 persen, dan minyak goreng 0,04 persen.

“Deflasi artinya harga Januari lebih rendah dari Desember,” sambungnya.

“Kalau nanti misalkan di Februari terjadi lagi banyak permintaan kemudian gangguan terhadap suplai maka harganya akan naik lagi kalau naik lagi inflasi, tapi kalau tambah lagi permintaan turun dan suplainya banyak. Ya, kan hukum pasar,” tambahnya.

Baca Juga  BPS Catat Kunjungan Wisman ke Bali Tahun 2024 Meningkat 20,1 Persen

Reporter: Komang Ari