Bukan Soal Fisik, Atlet Panjat Tebing Nasional Jarang Juara karena Sistem Pendidikan Indonesia
Badung – Prestasi atlet panjat tebing nasional yang belum konsisten di kancah dunia ternyata bukan hanya soal kekuatan fisik.
Menurut Ketua Umum Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Yenny Wahid, akar persoalannya ada pada sistem pendidikan Indonesia yang belum membentuk kemampuan berpikir kritis.
“Nah Indonesia ini memang sistem pendidikannya masih belum mengajarkan cara berpikir kritis. Jadi atlet-atlet kita sulit menganalisa jalur yang dibuat oleh pembuat jalur,” kata Yenny Wahid di Peninsula Island, Nusa Dua, Jumat (2/5/2025).
Ia mengaku saat ini atlet-atlet Indonesia memang memiliki keterbatasan tersebut.
Menurutnya, kemampuan berpikir kritis kunci penting dalam mengambil keputusan cepat saat berlaga di kategori lead.
“Karena ini membutuhkan kemampuan berpikir kritis, kemampuan untuk memastikan bahwa jalur yang ditempuh itu bisa menghantarkan dia ke atas,” imbuhnya.
Selain itu, Yenny Wahid menyebut, sarana prasarana panjat tebing di Indonesia untuk kategori lead belum masih sangat terbatas. Hal ini juga menjadi salah satu faktor penghambat.
“Saya sudah me-lobby pemerintah agar bisa membantu untuk penyediaan prasarana yang lebih mutakhir lagi,” jelasnya.
Untuk diketahui, IFSC World Cup 2025 di Bali diikuti 241 peserta dari 32 negara, termasuk Inggris, Jepang, Italia, Amerika Serikat, hingga China. Adapun, Indonesia diwakili 30 atlet yang dua di antaranya berasal dari Bali. Mereka akan berlomba di dua kategori, yakni lead dan spead.
Reporter: Yulius N

Tinggalkan Balasan