Denpasar – Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali mulai mematangkan persiapan Dekranasda Bali Fashion Day (DBFD) 2026 sebagai ajang strategis penguatan industri kreatif berbasis budaya. Kegiatan ini dirancang tidak sekadar menjadi perhelatan fesyen, melainkan motor penggerak ekonomi kreatif daerah yang berkelanjutan.

Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Putri Koster, Minggu (18/1/26) menegaskan DBFD 2026 akan mengusung fesyen sebagai medium promosi identitas dan kearifan lokal Bali. Menurutnya, ajang ini diharapkan mampu mempertemukan nilai tradisi dengan inovasi desain yang relevan dengan perkembangan zaman.

Saat ini, Dekranasda Bali tengah melakukan tahap awal perumusan konsep, penyusunan agenda, serta membangun sinergi lintas sektor untuk menyukseskan DBFD 2026. Koordinasi dilakukan dengan berbagai pemangku kepentingan guna memastikan acara berjalan terarah dan berdampak luas bagi pelaku ekonomi kreatif.

Baca Juga  Putri Suastini Berbagi Kisah Hidup, Sastra, dan Teater dalam Bincang Inspiratif di SMAN 1 Rendang

Dalam pembahasan tersebut, perhatian utama diarahkan pada penguatan peran perajin, desainer, dan pelaku UMKM lokal. Strategi yang disiapkan meliputi peningkatan kualitas produk, perluasan jejaring pemasaran, serta penguatan branding Bali agar mampu bersaing di tingkat nasional hingga internasional.

Dekranasda Bali menegaskan komitmennya menjadikan DBFD 2026 sebagai ruang kolaborasi yang inklusif dan berkelanjutan. Melalui kolaborasi ini, fesyen Bali diharapkan tumbuh sebagai industri yang berakar pada tradisi, namun adaptif terhadap dinamika pasar global.

Lebih jauh, DBFD 2026 juga diarahkan untuk mendorong keterlibatan generasi muda dalam pengembangan industri kreatif berbasis budaya. Ajang ini diharapkan melahirkan inovasi desain yang menjaga ruh tradisi Bali sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Baca Juga  Putri Koster Tekankan Mutu dan Harga Wajar di Pameran IKM Bali Bangkit