Wacanabali.com, Jembrana– Usai merayakan hari raya Idul Fitri, puluhan ribu warga memilih kembali ke Bali pada puncak arus balik gelombang kedua, Minggu (29/03/26). Hal ini terlihat dengan kedatangan ribuan kendaraan di pelabuhan Gilimanuk yang membawa pemudik kembali ke Bali.
Puncak arus balik Lebaran 2026 di lintasan Ketapang–Gilimanuk mulai terasa sejak Minggu pagi. Ribuan kendaraan pemudik turun dari setiap kapal sandar di dermaga Pelabuhan Gilimanuk dan bergerak masuk Bali. Mereka umumnya memilih kembali hari ini musim liburan hari raya Idul Fitri sudah usai.
“Ya besok sudah mulai bekerja, anak-anak juga sudah mulai sekolah,”ujar Ayu pemudik asal Genteng Banyuwangi tujuan Denpasar saat ditemui di pintu keluar pelabuhan Gilimanuk.
Berdasarkan data produksi per 12 jam pada 29 Maret 2026 (00.00–12.00 WIB) atau H+7, tercatat 22.804 penumpang telah menyeberang dari Ketapang menuju Pelabuhan Gilimanuk. Adapun kendaraan yang dilayani meliputi 3.438 sepeda motor, 2.024 mobil pribadi, 667 truk logistik, dan 272 bus, dengan total 6.401 unit.
Secara kumulatif arus balik dari Jawa ke Bali sejak 22 Maret 2026 hingga 29 Maret 2026 pukul 12.00, tercatat sebanyak 97.683 kendaraan dan 314.491 penumpang telah kembali ke Bali.
ASDP menerapkan strategi prioritas dengan mendahulukan kendaraan pemudik seperti sepeda motor, mobil pribadi, dan bus, guna memastikan perjalanan keluarga lebih cepat dan nyaman. Sementara itu, kendaraan logistik tetap dilayani dengan skema fleksibel berbasis kondisi lapangan.
General Manager ASDP Cabang Ketapang, Arief Eko, menjelaskan bahwa pada saat lonjakan terjadi, kendaraan barang dialihkan sementara ke kantong parkir yang telah disiapkan.
“Saat arus padat, kendaraan logistik kami arahkan ke buffer zone seperti Bulusan, Terminal Sri Tanjung, dan area Pusri. Setelah kondisi lebih landai, kendaraan tersebut dilayani kembali secara bertahap,” jelasnya.

Baca Juga  Aparat Keamanan Perketat Pemeriksaan di Pelabuhan Gilimanuk

Untuk menjaga kelancaran dan mengurai arus balik di Pelabuhan Ketapang, berbagai langkah telah dilakukan dianataranya sebanyak 32 kapal dioperasikan dengan 18 kapal menerapkan pola Tiba-Bongkar-Berangkat (TBB). Optimalisasi buffer zone di Grand Watudodol, Terminal Sri Tanjung, Bulusan, dan PT Pusri juga terus dilakukan. Meski beberapa titik terpantau padat oleh kendaraan logistik, kondisi tetap dalam kendali petugas.