Denpasar – Bagi umat Hindu di Bali, rahina (hari) Saraswati dimaknai sebagai mengalirnya ilmu pengetahuan yang dianugerahkan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi-Nya sebagai Dewi Saraswati.

Kendati identik dengan perenungan terhadap turunnya pengetahuan suci, tak sedikit masyarakat meyakini bahwa pantang hukumnya untuk membaca pustaka suci seperti veda, lontar maupun buku saat hari Saraswati tiba.

Menanggapi hal tersebut, Drs. Ketut Donder Ph.D menerangkan, terdapat makna filosofis dibalik larangan untuk membaca buku saat hari raya Saraswati.

“Itu bratha (pengendalian diri, red) karena kita melakukan ritual atau mempersembahkan sesaji pada saat hari Saraswati. Artinya dengan tidak membaca buku kita mensucikan dan mensakralkan buku. Ini namanya logika spiritual bukan logika material,” ungkapnya, Sabtu (20/5/2023).

Baca Juga  Refleksi Hari Saraswati: Manifestasi Tuhan dalam Indahnya Ilmu Pengetahuan

Menurutnya, larangan untuk tidak membaca buku dapat dimaknai sebagai momen mengistirahatkan diri dalam membaca pengetahuan duniawi dan mulai berefleksi untuk memahami pengetahuan spiritual.

“Ini kesempatan untuk mengistirahatkan otak kita dalam mempelajari apara widya atau pengetahuan duniawi dan beralih kepada pengetahuan diri sendiri atau para widya.”

“Oleh karena itu, saat tidak membaca buku yang berbentuk fisik, kita (saat hari Saraswati) semestinya dapat membaca buku yang ada di dalam diri sendiri. Membaca diri sendiri itu tidak akan pernah habis,” terangnya.

Dosen Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar ini juga mengatakan bahwa intisari pengetahuan tidak sekadar terletak pada proses belajar mengajar semata melainkan juga pada aspek self-realization atau realisasi diri.

Baca Juga  Refleksi Hari Saraswati: Manifestasi Tuhan dalam Indahnya Ilmu Pengetahuan

“Diri yang dimaksud adalah atman (percikan terkecil dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa) bukan badan. Makanya, orang yang menempuh ilmu pengetahuan dalam Hindu disebut sebagai brahmacari karena dia sedang mencari Tuhan yang ada di dalam diri,” tutupnya.

Reporter: Komang Ari
Editor: Ady Irawan