DenpasarTumpek Landep diperingati oleh umat Hindu Bali setiap 210 hari sekali, tepatnya pada Saniscara Kliwon Wuku Landep yang dihitung berdasarkan ketentuan kalender Bali.

Merujuk pada lontar Sundarigama, disebutkan bahwa pemujaan pada saat hari Tumpek Landep ditujukan kepada Ida Bhatara Sang Hyang Siwa Pasupati untuk memperoleh ketajaman pikiran.

“Secara filosofis tumpek landep dimaknai sebagai landepin idep artinya bagaimana pikiran itu supaya tajam, cerdas dan dapat menganalisa keadaan dalam mempermudah kehidupan manusia,” terang Prof. Dr. Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si kepada wacanabali.com, Sabtu (3/6/2023).

Rektor UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar ini menambahkan, pemaknaan penajaman pikiran dalam tumpek landep dapat dijadikan sebagai senjata dalam memerangi hoax atau berita bohong yang kian menjamur pada kehidupan masyarakat.

Baca Juga  Damkarmat Denpasar Upacarai Belasan Armada saat Hari Tumpek Landep

“Pikiran yang dipertajam ini maksudnya agar kita bisa menumbuhkan pikiran yang mempunyai wiweka. Wiweka artinya kita dapat memilih dan memilah mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan,” imbuhnya

Menurutnya, teknologi khususnya media sosial harus digunakan dengan mempertimbangkan aspek kebermanfaatan. Sehingga, dapat meminimalisir terjadinya penyalahgunaan di Masyarakat.

“Kalau tanpa wiweka biasanya kehidupan sering terpeleset, termasuk dalam memanfaatkan teknologi.Teknologi harus mengikuti aturan dan digunakan dengan tepat guna. Jangan sampai teknologi merusak mereka yang memilikinya,” terangnya.

Lebih lanjut, Prof. Sudiana menjelaskan, penajaman pikiran dapat digunakan sebagai landasan dalam menyelesaikan berbagai permasalahan kehidupan.

Landepin idep juga dapat diaplikasikan untuk menghadapi persaingan hidup yang keras ini agar kita tidak tersampingkan dalam kehidupan ini,” pungkasnya.

Baca Juga  Mobil Klasik hingga Kapal Mejeng di Tuksedo Studio saat Tumpek Landep

Reporter: Komang Ari
Editor: Ady Irawan