Denpasar – Pendaftaran ‘jalur belakang’ menjadi salah satu dilema klasik yang menghiasi liminasa Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di setiap tahunnya.

Asisten Ombudsman RI Bali sekaligus penanggung jawab Posko PPDB Tahun Ajaran 2023/2024 Dhuha F. Mubarok menyebutkan, adanya jalur belakang saat seleksi PPDB disebabkan oleh persepsi masyarakat terkait sekolah negeri yang dianggap lebih ‘unggul’ tinimbang sekolah swasta.

“Mindset masyarakat bahwa masuk ke sekolah negeri itu lebih baik. Walaupun kan sebenarnya sekarang tidak ada istilah sekolah favorit atau tidak karena semua sudah sama,” ujarnya kepada Wacanabali.com, Senin (19/6/23).

Pihaknya berujar, kemunculan jalur belakang ini juga disebabkan oleh oknum pihak sekolah untuk mendapatkan keuntungan komersial.

Baca Juga  Pemerhati Pendidikan: Pemerintah Wajib Adopsi Sekolah Swasta yang Nyaris Bangkrut

“Kadang ini juga dimanfaatkan oleh pihak sekolah. Misalnya, jumlah rombel (rombongan belajar) seluruhnya ada sembilan, itu hanya dibuka delapan. Nah, nanti satunya disisakan. Biasanya pas sudah MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) eh tiba-tiba masuk ke kelas yang tersisa itu,” imbuhnya.

Menurutnya hal ini dapat mencederai sistem yang telah disiapkan pemerintah untuk memfasilitasi penerimaan peserta didik baru.

“Bisa acak-acakan semua ini, aturan diacak-acak. Dikhawatirkan menimbulkan potensi transaksional. Siapa yang kuat bertransaksi, dialah yang bisa masuk,” terangnya.

Kendati demikian, kata Dhuha, pelaporan yang diterima pos PPDB Bali saat ini masih landai.

“Apabila ada bukti (sekolah membuka jalur belakang, red) kita langsung minta agar Disdikpora (Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga) mengambil tindakan,” tutupnya.

Baca Juga  Alami Krisis Guru, Klungkung Tutupi dengan Tenaga Pendidik Non-ASN

Senada dengan hal itu, Pemerhati Pendidikan Anak Agung Gede Agung Aryawan menyebutkan seleksi PPDB masih berpotensi ditunggangi beragam kecurangan.

“Hanya dengan menghentikan jalur belakang titipan oknum, kualitas pendidikan di Bali bisa kembali baik,” tandasnya.

Reporter: Komang Ari
Editor: –