Guru Honorer: Pembentuk Insan Cendikia dengan Gajih Tak Seberapa
Denpasar – “Pembentuk insan cendekia”, kalimat gagah yang kerap disandangkan pada guru nyatanya tak selamanya indah. Faktanya, gajih yang diterima guru acap kali dikeluhkan lantaran dianggap tak sebanding dengan beban kerja yang dijalankan.
Wakil Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Bali Luh Putu Agustinawati menegaskan, kompensasi merupakan hal penting dalam memantik lahirnya tenaga pengajar berkualitas.
“Pemberian kompensasi merupakan salah satu cara dalam menumbuhkan semangat dalam bekerja,” ungkapnya kepada Wacanabali.com, Jumat (28/7/23).
Kendati sistem gajih telah ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2021, sayangnya bagi guru honorer, gajih yang diterima tetap menyesuaikan pada kemampuan masing-masing sekolah.
“Jam kerja guru honorer maksimal 24 jam per minggu atau empat jam per hari. Jam kerja guru honorer ini sama dengan jam kerja guru tetap atau PNS,” tambahnya.
Sementara itu, Ni Wayan Yuliantari salah seorang guru honerer di Denpasar mengiyakan besaran gajih yang diterimanya sangat-lah kecil.
“Saya rasa sangat kurang untuk Saya yang memiliki kebutuhan sehari-hari dan tentunya setiap kebutuhan memerlukan dana yang berbeda,” jelasnya.
Di sisi lain, Yuli menyebutkan, beban kerja yang dilakoni sebagai guru honorer terkesan tak sebanding dengan kompensasi yang diterima.
“Sebagai guru, Saya merasa beban kerja yang diberikan tidak sesuai karena beban kerja guru mulai dari memikirkan ide belajar, administrasi, proses belajar sampai hasil pembelajaran bahkan sering kali guru harus mengikuti kegiatan di luar jam atau hari kerja,” tandasnya.
Reporter: Komang Ari

Tinggalkan Balasan