Denpasar – Peristiwa anak berkonflik dengan hukum belakangan tengah marak terjadi di Bali. Menurut pengamatan Psikolog Pendidikan Nyoman Wiraadi Tria Ariani, M.Psi, perilaku anak sangat dipengaruhi oleh aktivitas lingkungannya.

Misalnya, dalam kasus anak menjadi pelaku pemerkosaan. Hal ini, biasanya dipengaruhi oleh tayangan yang dikonsumsi anak atau bahkan merujuk pada hal-hal yang ditemui anak dalam kesehariannya.

“Perlu diketahui terlebih dahulu, apakah ada pengawasan orang tua apabila anak menonton misalnya hal-hal yang berbau pornografi kemudian apakah di sekitar anak ada yang mencontohkan perilaku itu juga,” terangnya kepada wacanabali.com, Kamis (4/1/24).

Pihaknya menyebutkan, orang-orang terdekat anak menjadi yang paling bertanggung jawab atas tindakan-tindakan berisiko yang dilakukan.

Baca Juga  Fenomena Kekerasan Seksual pada Anak di Bali Mencuat, Simak Penjelasannya!

“Karena keluarga adalah sekolah pertama yang bisa mengajarkan anak perilaku yang baik dan benar. Maka, jika hal ini tidak diajarkan anak akan kebingungan untuk menentukan mana perilaku yang baik dan benar,” tambahnya.

Baik anak yang terlibat sebagai pelaku ataupun korban, kata Tria, memerlukan dampingan psikologis.

“Waktu yang digunakan untuk memulihkan traumatis pada anak tidak hanya satu atau dua hari saja. Sehingga, pendampingan psikologis sangat diperlukan,” tandasnya.

Reporter: Komang Ari