Gianyar – Menyoroti viralnya video kampanye mantan Bupati Gianyar, I Made Agus Mahayastra berbau provokasi untuk melupakan persaudaraan dibalut teori kesucian Yadnya demi kepentingan politik pribadi, Caleg DPRD Bali dari partai PSI Dapil Gianyar Nomor 3, Ida Bagus Nyoman Devina Yesa menilai hal tersebut tidak etis diungkapkan, dianggap sebagai politik praktis yang bertujuan untuk mempertahankan kekuasaannya.

“Menurut saya itu (steatment, red) sudah tidak etis diungkapkan. Bagi saya, Yadnya itu bukanlah suatu hal yang bisa disatukan dengan politik. Karena apa? Pengorbanan masyarakat dalam beryadnya salah satunya harus didasari dengan rasa cinta kasih terhadap sesama, sedangkan kalimat-kalimat beliau (Mahasyatra, red) itu cenderung provokatif dan bertolak belakang dengan nilai-nilai Yadnya. Jadi saya melihat beliau cenderung berpolitik praktis,” ungkap pria akrab disapa Gus Yesa saat ditemui di acara “Mawar Melawan“, Senin (5/2/24).

Baca Juga  Identitas Mayat Mr X Ditemukan di Gilimanuk masih Misteri

Ia juga mengkritisi, bagaimana keadaan masyarakat di Gianyar saat ini sebagian besar sudah banyak dicekoki gaya-gaya berpolitik praktis yang cenderung menyesatkan dan memecah belah. Ranah-ranah spritual sering dimanfaatkan untuk berpolitik praktis, menjadi cara halal untuk melanggengkan ataupun mempertahankan kekuasaan.

Gus Yesa menegaskan, politisasi agama yang terjadi di Gianyar menjadi ancaman serius integrasi, membutakan masyarakat tentang nilai-nilai Yadnya sesungguhnya, sehingga apa yang dilakukan oleh Mantan Bupati Mahayastra tak menutup kemungkinan akan menimbulkan gesekan di masyarakat.

“Ini memang (politisasi agama, red) menjadi persoalan serius di Gianyar saat ini. Ranah-ranah spritual ini sering dimanfaatkan sebagai alat politik praktis. Korbannya jelas masyarakat itu sendiri, mereka sengaja diadu untuk kepentingan pribadi. Tolonglah, jangan lagi masyarakat itu dibodoh-bodohi untuk kepentingan pribadi,” pungkasnya.

Baca Juga  Jaksa Agung Larang Jajaran ke Tempat Hiburan Malam

Sementara itu, salah satu pengamat sosial Bali, Prof. Dr. WD Astana menilai, politisasi agama menjadi sebuah ancaman nyata di masyarakat, kerap dimanfaatkan sejumlah pihak memanipulasi mengenai pemahaman dan pengetahuan atau kepercayaan masyarakat dalam beragama.

Menurutnya, kebanyakan pihak/oknum politisi menggunakan cara propaganda dan indoktrinasi melalui agenda kampanye yang sengaja disebarluaskan untuk mempengaruhi konsensus keagamaan di masyarakat demi kepentingan pribadi, tak terkecuali pemahaman masyarakat soal “Yadnya” di Bali.

‚ÄúTentu saya ingin menyampaikan kepada masyarakat, biarlah proses politik itu berjalan tanpa harus memecah belah kita. Memang, agama harus dijadikan dalam semua aspek kehidupan, termasuk aspek politik, tapi jangan sampai pemahaman masyarakat tentang agama itu dipakai hanya untuk mencapai tujuan politik pihak-pihak tertentu, masyarakat dipengaruhi manipulasi keagamaan, seperti halnya pemahaman masyarakat soal ‘Yadnya’ sengaja disusupi untuk meraih tujuan politik ini sangat beresiko sekali memecah belah masyarakat,” jelasnya.

Baca Juga  Korsatpel UPPKB Cekik Dituntut 5 Tahun Bui dan Dimiskinkan¬†

Ia juga menekanakan, masyarakat penting untuk selalu menjaga tali persaudaraan, sebagaimana konsep “Menyama Braya” yang selalu dijunjung tinggu oleh sebagian besar masyarakat Bali.

Reporter: Gung Krisna

Editor: Ngurah Dibia