Denpasar – Dialog antara ribuan massa dari Forum Perjuangan Driver Pariwisata (FPDP) dengan DPRD Bali dalam Aksi Damai Jilid II: Pariwisata Bali Sedang Tidak Baik-Baik Saja sempat memanas.
Suasana mulai riuh saat massa aksi menyuarakan tuntutannya. Mereka mendesak agar pemerintah merevisi Pergub Bali No. 40 Tahun 2019 tentang Layanan Angkutan Sewa Khusus Berbasis Aplikasi di Provinsi Bali, serta mendorong penerbitan Perda jika diperlukan.
Di tengah dialog yang berlangsung, Wakil DPRD Bali I Wayan Disel Astawa menyampaikan agar aksi tersebut berjalan kondusif.
“Komitmen ini akan kami laksanakan, saya tidak ingin kalian semua tidak dapat makan dalam konteks transportasi di era digitalisasi. Kita harus sabar,” ujarnya di Wantilan DPRD Bali, Selasa (25/2/25).
Namun, suasana kian riuh dan membuat Disel melontarkan kalimat dengan nada tinggi. “Makanya beri masukan berapa tarifnya!” ketusnya.
Massa aksi kembali membalasnya dengan teriakan “huuu”. Sementara, beberapa terdengar memekikkan “Telpon Pak Giri Prasta untuk datang kesini”.
Ditemui usai aksi, Disel mengaku secara prinsip DPRD Bali telah menyetujui enam buah tuntutan yang dilayangkan oleh para driver.
“Kita kan dari DPR prinsipnya sudah menyepakati ada pembatasan kuota, standarisasi tarif cuma kita tidak diberikan kesempatan untuk bicara. Miskomunikasi itu saja sih sedikit,” ujarnya kepada awak media.
Reporter: Komang Ari
