Dari Lapas ke Pasar Global: Karya Warga Binaan Kerobokan Ubah Stigma Dunia
Wacanabali.com, Kerobokan – Transformasi sistem peradilan pidana melalui pendekatan rehabilitatif membutuhkan wadah nyata agar proses reintegrasi sosial warga binaan dapat berjalan optimal. Hal tersebut diwujudkan melalui implementasi Program Aksi ke-10 Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) Tahun 2026, yakni penguatan pemasaran produk hasil karya warga binaan melalui sektor UMKM.
Sebagai bagian dari program tersebut, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kerobokan menunjukkan bahwa pembinaan kemandirian mampu melahirkan produk kreatif yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memiliki daya saing hingga tingkat internasional.
Hal ini terlihat pada hari kedua penyelenggaraan The 7th World Congress on Probation and Parole (WCPP) 2026, Rabu (15/4), di Bali International Convention Center (BICC), ketika berbagai produk unggulan karya warga binaan Lapas Kerobokan berhasil menarik perhatian para delegasi dari berbagai negara.
Dalam pameran tersebut, beragam hasil karya warga binaan ditampilkan, mulai dari lukisan, dupa, hingga aneka kerajinan tangan. Produk-produk tersebut menjadi bukti nyata keberhasilan pola pembinaan yang humanis dan produktif di lingkungan pemasyarakatan. Selain memperluas akses pasar, kegiatan ini juga menjadi langkah strategis dalam mengubah stigma negatif masyarakat terhadap warga binaan melalui karya kreatif yang berkualitas.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Bali, Decky Nurmansyah, memberikan apresiasi atas partisipasi aktif Lapas Kerobokan dalam forum internasional tersebut.
Menurutnya, keterlibatan warga binaan dalam ajang global merupakan bentuk pengakuan atas martabat, potensi, dan keterampilan yang mereka miliki sebagai bekal untuk kembali ke tengah masyarakat.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Lapas Kelas IIA Kerobokan, Hudi Ismono, menegaskan bahwa partisipasi dalam pameran internasional ini menjadi momentum penting untuk menunjukkan wajah baru pemasyarakatan yang lebih produktif dan berorientasi pada masa depan.
“Kami ingin dunia melihat bahwa di balik jeruji besi terdapat semangat perubahan yang positif dan produktif. Karya-karya ini menjadi bekal nyata bagi warga binaan untuk kembali ke masyarakat dengan lebih percaya diri,” ujarnya.
Pameran ini sekaligus menegaskan bahwa keterbatasan ruang bukanlah penghalang bagi lahirnya kreativitas. Justru melalui pembinaan yang tepat, warga binaan mampu menghasilkan karya yang melampaui ekspektasi dan mendapat pengakuan di tingkat internasional.

Tinggalkan Balasan