Wacanabali.com, Badung – Pemerintah Kabupaten Badung bersama PT Kereta Api Indonesia (Persero) menyiapkan pengembangan moda transportasi trem massal sepanjang 13,1 kilometer yang akan menghubungkan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Kuta, Legian, Seminyak hingga Canggu.

Rencana tersebut ditandai dengan penandatanganan Naskah Kesepakatan Bersama antara Pemerintah Provinsi Bali, Pemerintah Kabupaten Badung dan PT KAI mengenai rencana pengembangan perkeretaapian di Kabupaten Badung, Selasa (1/9). Penandatanganan berlangsung di Ruang Kertha Sabha, Rumah Jabatan Gubernur Bali, dan dilakukan oleh Gubernur Bali Wayan Koster, Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa serta Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin.

Pengembangan trem ini menjadi bagian dari inisiatif Bali Low Emission Zone Initiative (BLEZI) yang diarahkan sebagai salah satu solusi untuk mengurai kepadatan lalu lintas di kawasan Bali Selatan. Moda transportasi publik massal tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif mobilitas masyarakat sekaligus mendukung aktivitas pariwisata.

Proyek trem sepanjang 13,1 kilometer tersebut dirancang dalam dua fase pembangunan. Fase 1A mencakup rute Bandara Ngurah Rai-Legian sepanjang 6,6 kilometer dengan target operasi komersial pada kuartal IV 2028.

Baca Juga  Sambut Delegasi Timor-Leste, Gubernur Koster Dorong Penguatan Kerja Sama Ekonomi Bali
Foto: Bupati Wayan Adi Arnawa disaksikan Gubernur Wayan Koster menandatangani Naskah Kesepakatan Bersama rencana pengembangan perkeretaapian bertempat di Ruang Kertha Sabha, Rumah Jabatan Gubernur Bali, Selasa (1/9). Sumber: ist

Selanjutnya, Fase 1B mencakup rute Legian-Seminyak-Canggu sepanjang 6,5 kilometer yang ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal I 2031.

Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa mengatakan kesepakatan bersama tersebut menjadi langkah awal yang penting dalam mewujudkan rencana pengembangan trem di Badung. Setelah kesepakatan ditandatangani, pemerintah daerah bersama PT KAI akan menindaklanjutinya melalui penyusunan perjanjian kerja sama dan studi kelayakan atau Feasibility Study (FS).

“Trase trem perlu dikaji secara komprehensif agar tidak hanya menjadi solusi mobilitas, tetapi juga terintegrasi dengan pengembangan jaringan jalan dan kawasan pariwisata Badung,” ujar Adi Arnawa.

Ia menilai keberadaan transportasi massal sangat diperlukan untuk memperkuat konektivitas kawasan pariwisata sekaligus menekan pertumbuhan penggunaan kendaraan pribadi. Karena itu, Adi Arnawa juga mendorong agar pengembangan jaringan transportasi publik ke depan tidak berhenti pada koridor Kuta-Canggu.

Menurutnya, konektivitas juga perlu diarahkan dari kawasan Nusa Dua menuju Uluwatu, Bandara Ngurah Rai dan kawasan Kuta sehingga terbentuk jaringan transportasi publik yang terintegrasi di wilayah selatan Bali.

Baca Juga  Mesin ATM BRI Terbakar

“Harapannya akan terbangun transportasi publik massal dalam bentuk trem sehingga menjadi pilihan masyarakat untuk berkunjung ke destinasi pariwisata sekaligus mengatasi kemacetan dan pertumbuhan kendaraan pribadi,” katanya.

Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan persoalan kemacetan harus segera ditangani karena dapat berdampak terhadap keberlanjutan ekosistem pariwisata Bali. Menurutnya, pembangunan transportasi publik menjadi salah satu upaya penting dalam menjaga keberlanjutan mobilitas di tengah tingginya aktivitas wisatawan dan masyarakat.

Meski demikian, Koster meminta pengembangan trem tetap memperhatikan karakter Bali, kenyamanan, estetika serta kearifan lokal. Ia juga mendorong adanya sosialisasi secara masif kepada masyarakat dan pelaku usaha di sepanjang koridor, termasuk pemilik hotel.

Keberadaan trem diharapkan dapat diposisikan sebagai peluang baru yang tidak hanya memberikan alternatif transportasi, tetapi juga memperkuat daya tarik kawasan pariwisata.

Dari sisi teknis, Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin menjelaskan trem akan menggunakan sistem single track, dengan jalur ganda pada terminus dan sejumlah titik persilangan.

Khusus di kawasan bandara, jalur trem dirancang menggunakan konstruksi melayang atau elevated. Sementara sebagian besar trase lainnya akan dibangun di permukaan tanah.

Baca Juga  Tiga Mantan Bupati Jembrana All Out Menangkan Koster-Giri dan Bang-Ipat

Untuk menjaga kualitas visual kawasan pesisir, trem dirancang menggunakan sistem berbasis baterai. Pengisian daya akan dilakukan di depo, stasiun terminus serta titik-titik persilangan yang telah ditentukan.

Dengan sistem tersebut, perjalanan dari Legian menuju Bandara Ngurah Rai diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 23 menit. Sementara waktu tempuh dari Canggu menuju Bandara Ngurah Rai diperkirakan sekitar 40 menit.

Dalam pelaksanaan proyek, PT KAI membutuhkan dukungan pemerintah daerah, terutama terkait pembebasan lahan, penyediaan lahan depo, penguatan kawasan pesisir, akses trase bandara hingga proses perizinan.

Desain teknis proyek juga akan membutuhkan pendampingan dari Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan.

Penandatanganan kesepakatan tersebut turut dihadiri perwakilan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Direktur Utama Jamkrida Bali Mandara, Kelompok Ahli Gubernur Bali, pimpinan OPD Provinsi Bali, Sekda Bali I.B. Surya Suamba, Kepala Bagian Kerja Sama Setda Badung I Made Dedy Sandrawan, serta Sekretaris Dinas Perhubungan Badung I Made Gede Wiryantara Adi Susandi.