Denpasar – Pustaka Desa, sebuah perpustakaan yang dikelola Desa Sumerta Kelod, Denpasar menjadi daya tarik tersendiri bagi warga sekitar.

Perbekel Desa Sumerta Kelod I Gusti Ketut Anom Suardana, menuturkan perpustakaan ini dilatarbelakangi oleh kekhawatiran akan menurunnya minat baca di kalangan anak muda.

“Melihat fenomena globalisasi anak-anak juga gak ada yang baca. Main HP saja. Inilah usulan-usulan masyarakat kita musyawarahkan,” ucap Anom kepada awak media, Senin (21/4/25).

Berangkat dari usulan masyarakat tersebut, Desa Sumerta Kelod kemudian membangun ruang khusus perpustakaan yang berlokasi di depan SMKN 4 Denpasar.

Tempat tersebut kini menjadi ‘basecamp’ dari Pustaka Desa, lengkap dengan koleksi buku yang terus diperbarui.

Tak berhenti di sana, inovasi pun terus berkembang. Salah satunya adalah kehadiran Pustaka Keliling yang menyasar langsung anak-anak di banjar dan sekolah. Program ini terbagi menjadi dua jenis, yakni sambang banjar dan sambang sekolah.

“Saat ada kegiatan adat di banjar, biasanya para ibu membawa anak-anak. Nah, anak-anak itu yang kami edukasi di mobil Pustaka Keliling. Mereka membaca, lalu kami beri tes pemahaman. Ada petugas khusus yang mendampingi,” jelas Anom.

Foto: Aktivitas membaca di Pustaka Desa, Sumerta Kelod, Denpasar. Sumber: Komang Ari/Wacana Bali.
Foto: Aktivitas membaca di Pustaka Desa, Sumerta Kelod, Denpasar. Sumber: Komang Ari/Wacana Bali.

Sementara untuk Sambang Sekolah, ujar Anom, pihak sekolah justru secara aktif meminta kehadiran mobil Pustaka.

“Biasanya dua sampai tiga kelas sekaligus dilibatkan. Guru-guru juga ikut mengedukasi. Antusiasme mereka luar biasa,” tambahnya.

Ia berharap, kehadiran Pustaka Desa ini dapat membangkitkan gairah membaca di kalangan anak muda.

“Kami ingin membentuk karakter dari usia anak apalagi di tengah fenomena kecanggihan teknologi, agar mereka nggak main HP saja,” ucapnya.

Reporter: Komang Ari