Denpasar – Mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Wayan Raditya, menciptakan inovasi seni kriya dengan menggabungkan elemen tradisional dan teknologi modern dalam karyanya berupa kotak amplop berhiaskan barong kinetik.

Pria asal Singapadu, Gianyar ini menuturkan, karya itu semula dibuat untuk memenuhi tugas kuliah. Ia terinspirasi dari kotak amplop yang biasa ditemui saat upacara perkawinan. Menurutnya, hiasan barong dinilai menjadi pembeda dari kotak-kotak amplop biasanya.

“Di dekorasi pengantin untuk kotak amplop biar ada perbaruan, tidak monoton itu-itu saja kotak biasa atau dengan hiasan bunga saja. Biar ada inovasi baru untuk perkembangan, apalagi perkembangan modern,” kata dia saat diwawancarai di sebuah pameran di Denpasar, Senin (15/4/25).

Untuk mengerjakan karya ini, Raditya membutuhkan waktu sekitar dua bulan sebab pengerjaannya yang tergolong rumit.

Barong yang digunakan dirakit menggunakan kerangka besi, dan digerakkan dengan tiga buah mesin dinamo. Mekanisme ini memungkinkan bagian tubuh barong bergerak otomatis layaknya tengah menari, memberikan kesan hidup dan dinamis pada ornamen tersebut.

Sementara itu, di bagian tapel (topeng) Raditya menggunakan kayu pule yang dibentuk sedemikian rupa. Untuk rambut barong, ia memilih memanfaatkan tumbuhan parasok dan rambut boneka.

Baru lantas sentuhan akhir menggunakan kaca, cat, dan prada memperhalus tampilan keseluruhan.

Foto Wayan Raditya saat menjelaskan hasil karyanya, Senin (15/4/25). Sumber: Komang Ari/Wacana Bali.
Foto Wayan Raditya saat menjelaskan hasil karyanya, Senin (15/4/25). Sumber: Komang Ari/Wacana Bali.

Karya perdananya ini, sambung Raditya, mendapatkan apresiasi positif dari kalangan penikmat seni. Bahkan, sudah sempat disewakan untuk upacara perkawinan.

“Kemarin waktu pembukaan pameran lumayan juga dosen yang memuji. Tapi pasti ada kritikan-kritikan,” imbuhnya.

Pemilihan barong sebagai ikon dalam karyanya bukan tanpa alasan. Raditya ingin memperkenalkan Barong Ket Singapadu, kekayaan budaya dari kampung halamannya.

“Kebetulan saya dari Singapadu atau yang dikenal dengan sebutan umah (rumah) barong. Harapannya ini dapat memperkuat dan mengenalkan mungkin budaya saya di Singapadu, yaitu barong,” bebernya.

Meski karyanya menuai pujian, Raditya mengaku belum berniat menjual karya perdananya itu.

“Mungkin untuk beli yang ini untuk saat ini saya tolak dulu karena ini karya pertama dan sangat berkesan bagi saya. Hasilnya memang gak maksimal, tapi saya bersyukur karya ini bisa terwujud,” imbuhnya.

Reporter: Komang Ari