Lantik Pengurus Golkar Bali, Bahlil Tekankan Pengabdian dan Perjuangan untuk Rakyat
Wacanabali.com, Denpasar – Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Menko Bidang Hilirisasi dan Energi Bahlil Lahadalia, resmi melantik Pengurus DPD Partai Golkar Provinsi Bali. Pelantikan berlangsung di Monumen Perdamaian Dunia, Desa Budaya Kertalangu, Kesiman Kertalangu, Denpasar, Sabtu (3/10/2026).
Dalam kesempatan itu, Bahlil menekankan agar kader Partai Golkar di Bali dijadikan sebagai instrumen perjuangan dan pengabdian kepada masyarakat. Menurutnya, partai harus hadir untuk memperjuangkan hak-hak rakyat serta mendorong kesejahteraan masyarakat.
“Saya melihat dari wajah-wajah yang dilantik adalah wajah-wajah yang penuh harapan, wajah-wajah yang merupakan gabungan antara generasi yang lalu dengan generasi yang kini yang akan mewarisi generasi masa depan bangsa,” kata Bahlil.
Atas dasar itu, Bahlil meminta seluruh pengurus Golkar Bali menjadikan partai sebagai wadah untuk mengabdi dan memperjuangkan kepentingan rakyat.
“Jadikanlah partai ini sebagai instrumen perjuangan, pengabdian kita kepada Ibu Pertiwi untuk memperjuangkan hak-hak rakyat dalam rangka menyejahterakan rakyat Indonesia, khususnya di Provinsi Bali,” tegasnya.
Bahlil kemudian mengingatkan pentingnya memahami sejarah Partai Golkar sebagai pijakan untuk menjalankan perjuangan politik ke depan. Ia menyebut sejarah merupakan pondasi bagi kader untuk memahami jati diri dan arah perjuangan partai.
“Kita mau berbicara ke depan, harus kita tahu sejarah. Sejarah adalah pondasi untuk kita melangkah ke depan,” ujarnya.
Menurut Bahlil, Golkar memiliki sejarah kelahiran yang berbeda dibandingkan dengan sejumlah partai politik lainnya. Ia menyebut Golkar pada awalnya bukan merupakan partai politik, melainkan kekuatan politik bernama Golongan Karya.
“Partai Golkar awalnya bukan partai. Dia adalah kekuatan politik yang namanya Golongan Karya. Itulah yang dilakukan pada pemilu tahun ’71 dengan Trilogi Pembangunan. Setelah reformasi, baru kita merubah Golongan Karya menjadi partai politik yang namanya Partai Golkar,” jelasnya.
Bahlil juga menekankan bahwa Golkar merupakan partai terbuka yang tidak dimiliki oleh kelompok, keluarga, maupun individu tertentu. Menurutnya, seluruh kader memiliki kedudukan dan hak yang sama berdasarkan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga partai.
“Partai Golkar adalah partai terbuka. Siapa pun yang menjadi Ketua Umum Partai Golkar boleh, tidak perlu minta izin ke trah A, trah B, trah C. Kita semua mempunyai trah yang sama dengan kedudukan yang sama,” katanya.
Ia pun mengajak generasi muda yang ingin terjun ke dunia politik untuk menjadikan Partai Golkar sebagai salah satu ruang memperjuangkan kepentingan masyarakat.
“Kalau mau pengin untuk masuk di partai, menjadi seorang politisi, dan sekaligus untuk memperjuangkan rakyat dalam rangka mewujudkan kesejahteraan rakyat, Partai Golkar adalah salah satu partai terbuka dari sekian banyak partai yang ada di bangsa Republik Indonesia,” tuturnya.
Dalam kesempatan itu, Bahlil juga meminta kader Golkar tidak memandang partai politik lain sebagai musuh. Ia menekankan pentingnya membangun komunikasi dan menjaga hubungan dengan seluruh kekuatan politik.
“Jangan kita menganggap bahwa partai lain itu adalah lawan kita, enggak boleh. Golkar tidak pernah mengenal lawan karena Golkar selalu berdamai dengan semua warna,” ujarnya.
Menurut Bahlil, perbedaan pilihan dan wadah politik tidak seharusnya menjadi penghalang untuk membangun kebersamaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Kita satu rumah, beda kamar. Doktrinnya masih karya kekaryaan,” katanya.
Menutup arahannya, Bahlil kembali menegaskan agar kader menjadikan Partai Golkar sebagai sarana pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara.
“Politik kita ini politik kerakyatan, politik kita ini politik kebangsaan. Jadikan partai sebagai instrumen pengabdian, jadikan partai sebagai instrumen perjuangan, dan jadikan partai sebagai instrumen ibadah,” pungkasnya.
Reporter: Yulius N

Tinggalkan Balasan