Warga Pemogan Olah Sampah Organik dengan Maggot, Tekan Volume Sampah
Wacanabali.com, Denpasar – Pengelolaan sampah masih menjadi tantangan di Kota Denpasar. Di tengah persoalan tersebut, upaya berbasis masyarakat melalui pemanfaatan maggot mulai dikembangkan sebagai solusi pengolahan sampah organik.
Metode ini juga dijalankan oleh Ana Rohanah Salamah melalui Integrasi Maggot, Unggas, dan Tanaman atau “Kebun Imut” di Kampung Islam Kepaon, Desa Pemogan.
Ana menjelaskan, pengolahan dilakukan dengan memanfaatkan larva lalat Black Soldier Fly (BSF) yang dikenal efektif mengurai limbah organik. Dalam praktiknya, metode ini mampu mengolah puluhan kilogram sampah setiap hari.
“Saya mengelola sampah organik berbasis maggot ini secara spontan. Melihat ciptaan Tuhan yang luar biasa, justru maggot ini mampu mengolah sampah organik dengan sangat baik,” ungkapnya, Kamis (23/4/26).
Ia menyebut, kemampuan maggot meningkat seiring pertumbuhan. Pada fase awal, konsumsi masih terbatas, namun memasuki minggu kedua, jumlah sampah yang diurai meningkat signifikan sehingga proses pengolahan menjadi lebih cepat.
Selain mengurangi sampah, maggot yang dihasilkan juga memiliki nilai ekonomi karena dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Sementara sisa pengolahan dimanfaatkan sebagai kompos.
Ana mengaku telah mulai mengelola sampah sejak 2015. Setelah sempat terhenti, dalam dua tahun terakhir kegiatan tersebut kembali dikembangkan.
Saat ini, Kebun Imut di lahan sekitar dua are di Jalan Raya Pemogan dan, menjadi tempat integrasi pengolahan sampah, peternakan unggas, dan budidaya tanaman. Selain itu, di lokasi tersebut juga dikembangkan produk turunan seperti eco enzyme dan pengolahan minyak jelantah menjadi sabun.
Dalam pengembangannya, ia turut berkolaborasi dengan sejumlah komunitas lingkungan, di antaranya Go Green Deen, Bali Waste Management Training Center, TPS3R Kubu Lestari, serta Komunitas Aksi Masyarakat Peduli Lingkungan.
Ana berharap, pengelolaan sampah berbasis maggot dapat semakin luas diterapkan sebagai alternatif penanganan sampah organik, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah berkelanjutan.
Sementara itu, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Denpasar, Sagung Antari Jaya Negara, menilai pemanfaatan maggot dapat menjadi salah satu alternatif dalam mengurangi volume sampah organik sekaligus mendorong partisipasi masyarakat.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Ana Rohanah Salamah karena telah berkontribusi membantu pemerintah dalam mengurangi sampah dengan sistem maggot ini,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan