Denpasar – Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Provinsi Bali Anak Agung Gde Utama Indra Prayoga SH mengecam penggunaan sound sistem saat hari pengerupukan.

Menurutnya penggunaan sound sistem saat pengarakan ogoh-ogoh tidak sesuai dengan adat dan budaya masyarakat Bali.

“Saya harap desa adat dan pemerintah memperketat larangan penggunaan sound sistem saat pengerupukan. Hal ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut, karena nyomye (pemurnian,red) buta kala dengan ogoh-ogoh sebaiknya tetap menggunakan baleganjur (gambelan Bali, red),” ujarnya Ketua KNPI Bali kepada wartawan, Rabu (13/3/24).

Gung Indra menambahkan sudah semestinya penggunaan gamelan dikedepankan daripada penggunaan sound sistem yang dapat merusak budaya Bali.

Baca Juga  Viral Soal 'Gibran Effect', Nyoman Parta Tak Khawatir Suara Bali Terbelah

“Jangan sampai sound sistem yg digunakan awalnya lantunan baleganjur terus berubah menjadi house musik. Apalagi sampai mendatangkan sound system dari luar bali.”

“Kita kedepankan seni dan budaya bali, karena di era saat ini godaan dan tantangan generasi muda, sangat besar. Mempertahankan lebih sulit dari pada pendahulu kita yg telah menciptakan atau menggagas gambelan sebagai iring-iringan dalam upacara adat di Bali,” terangnya.

Menurutnya Jangan sampai dengan alasan tidak ada sekaa atau grup untuk megambel, jadinya beralih menggunakan sound system.

“Penggunaan baleganjur bisa bareng dengan sekaa yang ada di wilayahnya, mungkin bisa digabung ogoh-ogoh antar banjar terdekat lalu baleganjurnya jadi satu, inipun juga bisa sebagai cara memupuk solidaritas dan persatuan pemuda,” sambungnya.

Baca Juga  Polda Bali Siap Amankan Pemilu Secara Maksimal

“Jika ini sudah ada, lalu disosialisasikan dari jauh-jauh hari masyarakat pasti mendukung. Pasti masyarakat juga akan saling membantu dalam mengingatkan pemuda diwilayahnya untuk tetap melestarikan seni dan budaya yg ada di Bali,” tegasnya.

Terakhir ia menegaskan harus ada sanksi tegas terhadap pelanggar aturan yang dapat mengikat sehingga tidak ada pelanggar peraturan.

“Disini pun juga mesti ada sanksi yg tegas dan tidak bisa ditawar, agar kedepannya di bali 100% tidak ada penggunaan sound sistem lagi dalam acara pengerupukan,” pungkasnya.

Reporter: Dewa Fathur