Jembrana – Kelurahan Gilimanuk berhasil mengamankan 14 orang anak jalanan atau sering disebut anak punk di depan sebuah minimarket. Keberadaan mereka meresahkan, selain melakukan aksi meminta-minta mereka diketahui masuk Bali dengan memanjat tembok pelabuhan dan kedapatan membawa senjata tajam.

Lurah Gilimanuk Ida Bagus Tony Wirahadikusuma, saat dikonfirmasi membenarkan telah mengamankan 14 orang anak jalanan di depan sebuah toko modern di wilayahnya, Jumat (27/06/25).

Pihaknya menerima laporan dari warga kalau ada anak-anak yang memanjat tembok pelabuhan dan turun menyusuri pantai. Setelah dicek mereka tidak ditemukan di lokasi tersebut.

“Kita sempat mengecek ke lokasi mereka manjat tembok namun mereka tidak ada. Atas laporan warga ada anak punk nongkrong didepan minimarket sambil melakukan aktivitas meminta uang kepada warga, kita bergerak kesana dan berhasil mengamankan 14 orang,” jelasnya, Sabtu (28/06/25).

Baca Juga  Denpasar Alokasikan Rp78 Miliar untuk Pembangunan Drainase, Target Rampung Oktober

Ke 14 orang tersebut akhirnya digiring ke Pos Pemeriksaan Kartu Tanda Penduduk (KTP) di terminal Gilimanuk. Dari hasil pemeriksaan mereka mengaku berasal dari Surabaya dan Palembang.

“Ada dua kelompok anak punk, dimana 10 orang berasal dari Surabaya dan 4 lainnya dari Palembang. Yang dari Surabaya semuanya tidak membawa KTP karena mereka rata-rata masih dibawah umur, sedangkan yang dari Palembang membawa KTP namun sudah tidak berlaku,” beber Gus Tony, panggilan akrab Lurah Gilimanuk.

Tidak hanya itu, lanjut Gus Tony, dari hasil pemeriksaan tas ke 4 orang kelompok Palembang juga ditemukan senjata tajam (sajam) jenis pisau dan gunting. Sajam tersebut diamankan personil TNI yang berjaga di Pos Pemeriksaan KTP.

Baca Juga  Bang Togar Sebut Gibran Sosok Tepat Wakili Aspirasi Milenial Indonesia

“Kita juga amankan sajam berupa pisau dan gunting dari tas mereka,” ujarnya.

Terkait dengan aksi anak punk tersebut nekat memanjat tembok, Gus Tony menduga dilakukan guna menghindari pemeriksaan di pintu masuk Bali. Begitu turun dari kapal mereka memilih menggindar dengan memanjat tembok setinggi 2 meter.

“Mereka memilih menggunakan jalur tikus guna menghindari pemeriksaan petugas dengan memanjat tembok pelabuhan Gilimanuk. Karena mereka tidak membawa kartu identitas dan tidak memliki tujuan yang jelas datang ke Bali,”tandasnya.

Setelah menjalani pemeriksaan dan pembinaan, ke 14 orang anak punk tersebut dikembalikan ke daerah asalnya melalui pelabuhan Gilimanuk dengan tujuan Pelabuhan Ketapang.

Reporter: Dika

Editor: Ngurah Dibia

Baca Juga  Wandhira Siap Dorong "Urban Farming" di Denpasar