Wacanabali.com, Denpasar – Pemerintah Kota Denpasar terus memperkuat langkah antisipasi banjir menjelang musim penghujan. Salah satunya melalui normalisasi Tukad Loloan di wilayah Sanur Kauh yang ditinjau langsung Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, Sabtu (3/10) pagi.

Normalisasi yang berada di bawah komando Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Denpasar tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko banjir sekaligus menjaga kelancaran aliran sungai.

Dalam peninjauan tersebut, Jaya Negara didampingi Kepala Dinas PUPR Kota Denpasar, I Gede Cipta Sudewa Atmaja. Ia mengatakan, pekerjaan normalisasi Tukad Loloan telah berlangsung sekitar satu setengah bulan.

Menurutnya, proses pengerjaan membutuhkan waktu cukup lama karena kondisi sedimentasi di sepanjang aliran sungai cukup tinggi.

“Makanya kita sudah kerjakan sejak satu setengah bulan lalu. Mudah-mudahan bisa mencegah banjir,” ujar Jaya Negara.

Baca Juga  Duta Seni Denpasar Raih Dua Emas di PKB ke-48, Jaya Negara Beri Apresiasi

Jaya Negara menambahkan, selain Tukad Loloan, Pemkot Denpasar saat ini melakukan normalisasi di sekitar 40 titik aliran sungai dan drainase yang tersebar di wilayah Kota Denpasar. Beberapa di antaranya meliputi Tukad Mati, Tukad Rangda, dan Tukad Ayung.

Untuk mempercepat pekerjaan, Pemkot Denpasar juga berkolaborasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS). Salah satunya dalam penanganan Tukad Mati dengan mendatangkan dua unit wheel loader guna mendukung proses pengerukan dan normalisasi.

“Kalau kemarin di Tukad Mati, kami juga bekerja sama dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) untuk mendatangkan dua wheel loader untuk mempermudah pekerjaan ini,” ungkapnya.

Pemkot Denpasar menargetkan seluruh pekerjaan normalisasi tersebut dapat diselesaikan pada akhir Oktober mendatang.

Baca Juga  Muncul Calon Penantang di Pilwali Denpasar 2024, Ini Kata Jaya Negara

“Kita targetkan akhir Oktober bisa selesai dikerjakan,” jelas Jaya Negara.

Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Kota Denpasar, I Gede Cipta Sudewa Atmaja menjelaskan, pengendalian banjir di Kota Denpasar dilakukan melalui dua pendekatan, yakni pembangunan sistem drainase serta operasi dan pemeliharaan (OP) drainase.

Untuk pembangunan sistem drainase, pada tahun ini terdapat 11 titik yang dikerjakan. Di antaranya Jalan Kerta Raharja Sidakarya, Jalan Gunung Salak, Jalan Gunung Catur, kawasan sekitar Pantai Duyung Sanur, sekitar SD 10 Sesetan, Jalan Tukad Batanghari, Jalan Pulau Adi Pedungan, Jalan Kebo Ireng Padangsambian Kaja, Gang Klampit Jalan Gunung Batur, Jalan Pura Demak III, dan Jalan Suradipa.

Sementara itu, kegiatan operasi dan pemeliharaan drainase, termasuk pengerukan dan normalisasi sungai, dilakukan di 40 titik di Kota Denpasar.

Baca Juga  Jaya Negara Ngaku akan Fokus Tangani Sampah dan Macet

Cipta Sudewa menjelaskan, sistem pengelolaan drainase Kota Denpasar terbagi dalam lima sistem, yakni Sistem I di Tukad Badung, Sistem II di Tukad Ayung, Sistem III di Tukad Mati, Sistem IV meliputi kawasan Renon, Panjer, Sanur, Sidakarya dan sekitarnya, serta Sistem V di kawasan Pemogan.

“Masing-masing sistem itu ada strategi tersendiri di dalam pengendalian pengelolaan untuk mengantisipasi banjir. Termasuk di sini di sistem 4, ada beberapa sungai-sungai yang dalam ukuran medium, tidak sebesar Ayung, Tukad Mati maupun Tukad Badung, pengelolaannya seperti ini, kita lakukan OP,” katanya.

Dengan normalisasi dan pemeliharaan yang dilakukan secara berkala, Pemkot Denpasar berharap kapasitas aliran sungai dan drainase tetap terjaga sehingga potensi genangan maupun banjir saat musim penghujan dapat diminimalkan.