Denpasar – Bisnis wine lokal Bali sangat menjanjikan karena pangsa pasar tinggi, namun berbagai kendala masih menghadang. Tidak adanya kelembagaan petani anggur dan tingginya pajak wine menjadi kendala utama sehingga bisnis ini belum mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal khususnya petani anggur.

Hal tersebut disampaikan oleh Peneliti Pariwisata Universitas Udayana, Dr. Agung Suryawan Wiranatha usai memandu focus group discussion (FGD) di Denpasar, Rabu (23/10/24). FGD tersebut membahas tema “Development strategy of local wine industry to support tourism in Bali” sebagai bagian dari kegiatan penelitian Udayana University International Senior Research Fellowship (UNISERF).

Penelitian tersebut atas kerjasama peneliti Unud, Dr. Agung Suryawan, Prof. Dr. I.G.A Oka Suryawardani, I Gusti Raka Purbanto, I.G.K Heryadi Angligan dan I Gusti Bagus Arya Yudiastina dengan peneliti Prancis Prof. Chstine PETR dari Universite Bretagne Sud.

“Ada tiga tujuan penelitian yakni menganalisis kepuasan dan kesetiaan wisatawan mengkonsumsi wine lokal Bali dan peningkatan kinerja industi wine lokal Bali, serta penyusunan strategi prioritas pengembangan industry wine lokal mendukung pariwisata,” ungkap Dr. Agung Suryawan.

Lebih lanjut, kata dia, analisis pendahuluan dilakukan terhadap 400 wisatawan asing yang mengkonsumsi wine lokal Bali di Kawasan Canggu (Kabupaten Badung), Sanur (Kota Denpasar) dan Ubud (Kabupaten Gianyar). Konsumen wine lokal terbesar ada direntang usia 26 – 55 tahun, di Canggu (60%), Sanur (52%), dan Ubud (59%).

“Kemampuan petani untuk menghasilkan anggur berkualitas sangat tergantung pada keterampilannya, keterampilan petani dapat dibentuk melalui organisasi (subakabian) selaku wahana pemberdayaan petani. Jadi pembentukkan subakabian petani anggur ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan petani,” jelasnya.

FGD tersebut diikuti pejabat pemerintah dan pelaku pariwisata seperti Kadis Perindag Bali I Wayan Jarta, Dewa Ketut Subawa (Distanpangan Bali), Ida Ayu Nyoman Candrawati (Disparda Bali). Sedangkan pengusaha wine dan pelaku wisata yang hadir Bagus Sudibya, Yoke Darmawan (Sababay Winery), IGM Cipta hary Anggara (Hatten Wine), IB Mahaendra Putra (PHRI).

Reporter: Yulius N