Denpasar – Dalam setiap kesempatan, Gubernur Bali terpilih periode 2025-2030 Wayan Koster selalu menegaskan bahwa pembangunan Bali harus berpedoman pada kebudayaan.

Komitmen itu juga yang digagas dalam ‘Visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali’ atau pembangunan Bali 100 tahun menuju Bali era baru.

Dalam visi tersebut, Koster mengarusutamakan pembangunan dalam tiga dimensi yakni, menjaga keseimbangan alam, krama (masyarakat), dan kebudayaan Bali.

Lantas apa alasan utama atau mendasar Wayan Koster menempatkan budaya sebagai arus utama pembangunan Bali?

Hal ini akhirnya terungkap saat orang nomor satu di Bali itu menghadiri perayaan Bulan Bahasa Bali VII Warsa 2025, di Art Center, Sabtu (15/2/2025).

Gubernur periode 2018-2023 itu mengatakan bahwa budaya merupakan identitas atau jati diri suatu bangsa.

Baca Juga  Buntut Kasus Kampung Rusia, Koster Akan Perketat Izin Berusaha di Bali

Koster membeberkan, dalam pembabakan sejarah bangsa-bangsa negara di dunia dengan segala pencapaian kemajuannya, salah satu penentunya adalah budaya yang membentuk peradaban itu menjadi sangat kuat.

Sebagai salah contoh yaitu bahasa, aksara maupun sastra yang dimiliki bangsa-bangsa seperti halnya Republik Rakyat Cina.

“Negara yang memiliki peradaban yang kuat adalah negara yang komitmen menjaga budayanya. Negara-negara itu punya disiplin yang kuat menggunakan aksara dalam kehidupannya sehari-hari, seperti Cina, Jepang, Korea, India, Arab,” ungkap Koster di Art Center Denpasar, Sabtu (15/2/2025).

Koster lantas mengatakan, negara-negara seperti itu, sewaktu-waktu akan menguasai dunia. Sebab mereka memiliki peradaban yang kuat dan tidak mudah diintervensi.

“Cina sekarang dengan disiplinnya menggunakan aksaranya mempertahankan peradabannya, Cina saat ini menurut saya negara yang kuat sewaktu-waktu bisa menggeser kekuasaan Amerika Serikat,” jelas Koster.

Baca Juga  Koster-Giri dan Paket Satriya Komitmen Lanjutkan Program Bedah Rumah di Nusa Penida

Berangkat dari refleksi itulah sebabnya Koster membentuk Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali.

“Sebagai generasi penerus yang bertanggung jawab, harusnya kita bangga punya aksara Bali. Kita harus bersyukur karena diwariskan oleh Penglingsir kita aksara Bali ini. Kita gak bikin tapi diberikan, kalau kita bikin gak bisa menggunakan juga gak bisa menurut saya itu kebangatan,” tegas Koster.

Melalui kebijakannya, Koster akan mewujudkan Bali berkepribadian dalam kebudayaan dengan memperkuat dan memajukan Adat, Tradisi, Seni, Budaya serta kearifan lokal.

Selain itu, mengembangkan tata kehidupan yang harmonis bersumber dari nilai-nilai kearifan lokal Sad Kerthi. Kemudian melestarikan warisan kebudayaan Bali termasuk masa depan Nyoman dan Ketut.

Baca Juga  Made Satria: Jalan Lingkar Solusi Kemajuan Nusa Penida

 

Reporter: Yulius N