Wacanabali.com, Bangli – Selama bertahun-tahun, sejumlah ibu di Desa Katung dan Desa Abuan, Kecamatan Kintamani, mengaku menangani demam anak dengan cara yang justru keliru — mulai dari mengompres dengan air es hingga anak kedinginan, sampai membungkus tubuh anak dengan selimut tebal saat suhu badannya justru sedang tinggi. Kekeliruan yang selama ini dianggap wajar itu terungkap dalam kegiatan pengabdian masyarakat yang digelar Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Denpasar di dua desa tersebut sepanjang Agustus–September 2026.

Kegiatan yang diketuai Ni Luh Putu Yunianti Suntari, dosen Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Denpasar, ini menyasar ibu balita dan anggota PKK melalui pendampingan kegiatan Posyandu. Edukasi dimulai di Desa Katung pada Agustus 2026, dan dilanjutkan di Desa Abuan pada 5 September 2026.

Pengabdian masyarakat yang digelar Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Denpasar di Desa Katung dan Abuan, Kintamani.
Pengabdian masyarakat yang digelar Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Denpasar di Desa Katung dan Abuan, Kintamani.

Dari Sesi Belajar Jadi Ruang Curhat Antar-Ibu

Yang menarik, sesi edukasi ini tidak berjalan satu arah. Tim pengabdi yang terdiri dari dosen dan mahasiswa mengamati bahwa pelatihan beberapa kali berubah menjadi diskusi hangat antarsesama ibu, saling berbagi pengalaman menangani anak demam di rumah. Tim pengabdi sendiri lebih banyak berperan sebagai fasilitator dalam diskusi tersebut.

Dari sesi berbagi cerita itulah, sejumlah kekeliruan lama yang selama ini dianggap sebagai cara wajar mulai terungkap. Banyak ibu ternyata juga baru menyadari bahwa kebiasaan menempelkan kain basah di dahi anak saja tidak cukup efektif untuk menurunkan demam.

Pengabdian masyarakat yang digelar Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Denpasar di Desa Katung dan Abuan, Kintamani.
Pengabdian masyarakat yang digelar Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Denpasar di Desa Katung dan Abuan, Kintamani.

Kenalkan Metode Tepid Water Sponge

Sebagai solusinya, tim pengabdi memperkenalkan metode tepid water sponge, yakni teknik menyeka tubuh anak menggunakan air hangat suam-suam kuku bersuhu sekitar 37°C. Para ibu tampak antusias menyimak penjelasan ilmiah mengapa area lipatan ketiak dan selangkangan menjadi titik utama penyekaan, karena bagian tersebut merupakan lokasi pembuluh darah dan pori-pori yang lebih terbuka.

Antusiasme ini tergambar dari tingkat kehadiran peserta di kedua desa yang mencapai 90–100 persen dari target. Dalam sesi demonstrasi, ibu-ibu secara sukarela bergantian mempraktikkan teknik penyekaan pada manekin bayi, dan menunjukkan pemahaman yang baik saat dievaluasi ulang. Rasa ingin tahu peserta juga terlihat dari banyaknya pertanyaan kritis, mulai dari durasi penyekaan yang tepat hingga cara menangani anak yang menggigil selama proses tersebut.

Pengabdian masyarakat yang digelar Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Denpasar di Desa Katung dan Abuan, Kintamani.
Pengabdian masyarakat yang digelar Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Denpasar di Desa Katung dan Abuan, Kintamani.

“Senjata Baru” untuk Hadapi Anak Panas di Tengah Malam

Bagi para ibu, teknik sederhana ini dirasakan sebagai bekal praktis dan murah untuk pertolongan pertama saat anak demam di tengah malam, sebelum memutuskan membawa ke Puskesmas atau memberikan obat. Dengan pengetahuan baru ini, mereka mengaku merasa lebih berdaya dan tidak lagi panik saat menyentuh tubuh anak yang panas.

Rasa percaya diri itu membuat para ibu berkomitmen bersama untuk menerapkan teknik tepid water sponge di rumah masing-masing sebagai langkah penanganan mandiri saat anak mengalami demam.

Selain edukasi, dalam kegiatan pengabdian ini Poltekkes Kemenkes Denpasar turut menyerahkan sejumlah alat kesehatan penunjang untuk mendukung kegiatan Posyandu di Desa Katung dan Desa Abuan.