Wacanabali.com, Jakarta – Presiden Prabowo Subianto memastikan pemerintah terus bergerak menangani bencana sekaligus mempercepat pemulihan masyarakat terdampak di sejumlah wilayah. Pemulihan tidak hanya diarahkan pada perbaikan kerusakan fisik, tetapi juga memastikan kebutuhan dasar dan aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan.

Hal tersebut disampaikan Presiden Prabowo saat memimpin rapat terbatas bersama sejumlah Menteri Kabinet Merah Putih dan kepala badan terkait di Istana Merdeka, Jakarta, melalui konferensi video, Senin (7/9/2026).

Dalam rapat yang berlangsung siang hingga sore hari tersebut, Presiden memantau perkembangan penanganan sejumlah bencana, mulai dari gempa di Flores, aktivitas Gunung Anak Krakatau, hingga kebakaran hutan dan lahan.

“Kita menghadapi berbagai keadaan karena bencana gempa di Flores kemudian sekarang aktivitas Gunung Anak Krakatau dan juga kebakaran hutan dan asap yang masih menjadi masalah bagi kita semua,” ujar Presiden.

Untuk penanganan pascagempa di Flores, pemerintah memastikan kebutuhan dasar masyarakat terus dipenuhi. Sejumlah layanan publik seperti listrik, komunikasi, BBM, air bersih, transportasi, kesehatan, dan pendidikan secara umum telah kembali fungsional.

Pemerintah juga terus mendorong percepatan pemulihan dengan mengaktifkan kembali kegiatan belajar mengajar, menyusun peta jalan pemulihan ekonomi, serta membangun hunian sementara bagi masyarakat yang rumahnya terdampak gempa.

Baca Juga  Enam Bandara Terdampak Abu Vulkanik Anak Krakatau, BNPB Siapkan Modifikasi Cuaca

Sebagai dukungan terhadap penanganan di daerah, pemerintah telah menyalurkan Rp200 miliar kepada Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Timur (NTT). Sementara itu, proses verifikasi kerusakan rumah terus dilakukan sebagai dasar pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi.

Di tengah proses pemulihan Flores, pemerintah juga menghadapi dampak aktivitas Gunung Anak Krakatau. Sebaran abu vulkanik menyebabkan gangguan terhadap aktivitas penerbangan dan berdampak pada sejumlah bandara.

Pemerintah melakukan berbagai langkah untuk mengurangi dampak erupsi, termasuk operasi modifikasi cuaca untuk membantu meluruhkan abu vulkanik. Penanganan terhadap dampak transportasi juga terus dilakukan agar masyarakat yang mengalami gangguan perjalanan memperoleh kepastian.

Sementara itu, penanganan kebakaran hutan dan lahan terus diperkuat melalui operasi darat dan udara. Sebanyak 19 pesawat dikerahkan untuk operasi modifikasi cuaca dan patroli, sedangkan 36 pesawat digunakan untuk water bombing.

Selain pemadaman, pemerintah juga memperkuat penegakan hukum terhadap dugaan pembakaran hutan dan lahan. Berdasarkan laporan Kapolri kepada Presiden, sebanyak 200 laporan polisi sedang diproses dan 138 tersangka telah diamankan.

Baca Juga  TKN Prabowo-Gibran Sebut Program Makan Siang Gratis Dorong Kesejahteraan di 76 Negara

Presiden juga memberikan perhatian terhadap dugaan pembakaran hutan yang dilakukan secara sengaja, termasuk kemungkinan keterlibatan korporasi. Ia meminta dugaan tersebut terus didalami dan ditindak sesuai hukum.

“Saya tertarik juga itu yang habis kebakaran langsung jadi lahan perkebunan dalam waktu yang sangat singkat. Jadi ini benar-benar kesengajaan dan apakah ini korporasi. Tolong diselidiki terus,” tegas Presiden.

Menurut Presiden, berbagai bencana yang terjadi harus menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat sistem penanganan dan mitigasi bencana nasional. Indonesia yang berada di wilayah ring of fire memiliki potensi menghadapi berbagai jenis bencana sehingga kesiapsiagaan harus dibangun secara berkelanjutan.

“Ini adalah takdir kita negara yang berada di lingkaran api atau the ring of fire. Jadi ini membawa kita untuk kita harus siap menghadapi keadaan seperti ini setiap saat,” kata Presiden.

Karena itu, Presiden meminta pemerintah tidak hanya fokus pada respons ketika bencana terjadi, tetapi juga menyiapkan langkah mitigasi jauh sebelumnya. Pemerintah didorong menyusun master plan mitigasi bencana yang menyeluruh dan memperkuat ketersediaan berbagai peralatan pendukung.

Baca Juga  Konsisten Gaya Kampanye Riang Gembira, TKN Yakin TKD Bali Raih Kemenangan

Sejumlah kebutuhan yang menjadi perhatian antara lain helikopter, pompa air, kendaraan pemadam kebakaran, ekskavator, pesawat untuk operasi modifikasi cuaca, hingga drone.

Presiden menekankan bahwa kesiapan harus dibangun dengan prinsip memiliki kapasitas yang memadai sebelum keadaan darurat datang.

“Kita gunakan prinsip, lebih baik lebih daripada kurang. Jadi kita persiapan mengatasi dan mitigasi itu jangan menunggu kejadian. Jauh sebelumnya kita siapkan,” lanjutnya.

Pemerintah pun akan terus melakukan evaluasi terhadap setiap penanganan bencana, termasuk mencatat berbagai kendala dan keterlambatan yang masih ditemukan di lapangan.

Bagi Presiden Prabowo, penanganan bencana tidak berhenti ketika kondisi darurat teratasi. Pemulihan masyarakat harus terus dikawal hingga layanan dasar kembali normal, aktivitas ekonomi bergerak, serta masyarakat dapat menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih baik.

Dengan percepatan pemulihan sekaligus penguatan mitigasi, pemerintah berharap Indonesia semakin tangguh menghadapi berbagai ancaman bencana dan mampu memberikan perlindungan yang lebih baik bagi masyarakat.