Denpasar – Anjloknya harga babi dikeluhkan sejumlah peternak di Bali. Penurunan harga babi diduga diakibatkan oleh sejumlah faktor termasuk kekacauan di tingkat pengiriman serta persaingan tidak sehat antar pelaku pengirim.

“Sudah hampir delapan bulan harganya anjlok. Sekarang harganya berkisar 25 ribu atau paling tinggi 29 ribu per kilogram,” kata Ketua Gabungan Usaha Peternak Babi Indonesia (GUPBI) Bali I Ketut Hari Suyasa kepada wacanabali.com, Sabtu (16/12/23).

“Ini kan kompetisi yang tidak baik antara pelaku pengirim yang dimanfaatkan kemudian oleh pembeli babi di luar wilayah kita dan pelaku sibuk berperang saling memurahkan harga. Sehingga menekan harga produksi babi di sini. Maka kemarin kami meminta pemerintah melakukan ambang batas harga terbawah delapan bulan yang lalu,” paparnya.

Baca Juga  Adukan Harga Babi Anjlok ke Pemprov, GUPBI Bali Sebut belum Ada Titik Terang

Lebih lanjut, pihaknya turut menyayangkan respon pemerintah di Bali yang dinilai pasif dalam mengantisipasi persoalan ini. Sebelumnya, Suyasa mengaku telah memprediksi terjadinya penurunan harga babi. Namun, pemerintah tidak kunjung memberikan atensi.

“Intinya ini sebenarnya disebabkan oleh ketidakpedulian pemerintah terhadap peternak rakyat, tiang (saya, red) sudah mengingatkan pemerintah 8 bulan yang lalu bahwa akan terjadi kehancuran harga babi. Tapi pemerintah tidak mau ketemu,” ungkapnya.

Peternak babi saat ini ditaksir mengalami kerugian sebesar Rp 1.200.000 hingga 1.500.000 juta per ekor.

Sementara itu, Ketua Komisi II DPRD Bali I.G.K Kresna Budi menyebutkan penurunan harga babi disebabkan oleh ketatnya peraturan di wilayah penerima daging babi pasca merebaknya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak.

Baca Juga  Harga Pakan Tinggi, Peternak Babi Terancam Bangkrut

“Seperti untuk di Kalimantan Barat sekarang diperketat, syukurnya masih diberikan solusi untuk kita bisa memasok babi dari jalur laut. Ini juga kan berkaitan dengan supply and demand. Maka, apabila suplai berlebih maka harganya turun,” sebutnya.

Pihaknya mengaku, sebelumnya telah melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait termasuk peternak babi terkait kondisi tersebut. “Sering kita adakan diskusi. Terakhir kira-kira dua bulan yang lalu,” tepisnya.

“Setelah ini mudah-mudahan daerah penerima sudah bisa lepas dari penyakit karena ini kan menurut situasi. Kita juga harus menjaga dan juga melakukan pengawasan serta kita harus menghormati aturan wilayah lain,” tandasnya.

Reporter: Komang Ari
Editor: Ady Irawan