Klungkung – Seakan tak pernah lekang oleh waktu, Pesemetonan Puri Bendul Klungkung selalu konsisten menggelar tradisi Megibung (makan bersama) dalam menyambut Hari Suci Galungan, biasa dilakukan usai melaksanakan tradisi Mebat (mengolah hidangan) menjadi budaya turun-temurun diwariskan para leluhur hingga terus berkembang seiring modernisasi yang ada saat ini, Rabu (28/2/24).

Pelingsir Puri Bendul, A A Rai Kerti atau akrab disapa Niang Bendul sempat menceritakan, bagaimana tradisi Megibung ini telah menjadi budaya yang menjaga, serta menumbuhkan rasa kebersamaan dengan mengesampingkan status sosial, penuh dengan tata nilai (etika) dan aturan yang khas (estetika) sarat akan makna dalam menyambut kemenangan Dharma.

Foto: Tradisi Megibung di Puri Bendul sambut Galungan, Selasa (27/2/24). (Gung Kris/wacanabali.com)
Foto: Tradisi Megibung di Puri Bendul sambut Galungan, Selasa (27/2/24). (Gung Kris/wacanabali.com)

“Tidak hanya di Puri Bendul saja, tradisi (megibung, red) ini ciri khas masyarakat di ujung timur Pulau Bali. Sejak jaman dulu setiap mau Galungan, momen Megibung itu yang paling ditungg-tunggu. Tidak hanya kenyang yang di dapat, sambil makan kita bisa saling bertukar pikiran, juga bersenda gurau satu sama lain dan lebih akrab jadinya antar saudara,” ungkap Niang Bendul, Selasa (27/2/24).

Baca Juga  Disebut Sombong dan Lupa Pemerintah, Pelaku Pariwisata Beri Tanggapan

Mengutip kata-kata Pelingsir Puri Bendul, mengatakan tradisi Megibung merupakan warisan leluhur, tim redaksi wacanabali.com mencoba menggali sejarah dari tradisi unik ini. Dikutip dari laman Dinas Kebudayaan (Disbud) Karangasem, tradisi Megibung sudah ada sejak tahun 1614, diperkenalkan pertama kali oleh Raja Karangasem VII bernama I Gusti Anglurah Ketut Karangasem. Kala itu, sang raja membuat aturan kepada para prajuritnya seusai perang yang sedang beristirahat untuk makan, dimana harus melakukannya secara bersama-sama dan aturan itu ada hingga akhir masa kekusaannya di abad ke 18 SM (Sebelum Masehi) yang saat ini dikenal dengan tradisi Megibung.

Megibung sangat identik dengan kebersamaan, semua orang duduk bersila bersama, membentuk sebuah pola lingkaran. Di tengah lingkaran terdapat nasi beserta lauk – pauk yang sudah di hidangkan di dalam nampan atau wadah dengan beralaskan daun pisang. Uniknya, terdapat beberapa istilah, misalnya “sele” artinya orang yang bergabung dan duduk bersama untuk menikmati tradisi megibung sebagai bagian dari satu kelompok. Kemudian juga ada istilah “gibungan” adalah segepok nasi dengan alas gelaran (dari daun pisang) yang ditaruh di atas dulang atau nampan. Selanjutnya ada istilah “karangan” ini yaitu lauk pauk seperti lawar, komoh, urab (nyuh-nyuh) putih dan barak, padamare, urutan, marus, balah dan sate, jenis lauk pauk ini bervariasi sesuai kemampuan.

Baca Juga  Lima Founder PT DOK segera Disidangkan
Foto: Lauk pauk. (Gung Kris/wacanabali.com)
Foto: Lauk pauk. (Gung Kris/wacanabali.com)

Untuk diketahui, lauk pauk dalam tradisi Megibung memiliki urutannya sebelum di taruh ke dalam sebuah gibungan. Salah seorang sele ada yang bertugas menyiapkan, diawali dari komoh dan urab yang di taruh terlebih dahulu, kemudian lawar, daging dan terakhir adalah balah. Masyarakat juga menyebut satu porsi nasi gibungan dengan sebutan satu sela. Di mana satu sela ini hanya dinikmati oleh satu kelompok. Dahulu, satu sela harus dinikmati oleh delapan orang. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, satu sela kini bisa dinikmati kurang dari delapan orang, bisa antara 4-7 orang. Unik bukan?

“Ini tentu menjadi kebanggaan tersendiri, karena Megibung masih bisa eksis bertahan dan konsisten digelar khususnya saat penampahan Galungan di Puri Bendul,” tutupnya.

Baca Juga  Presiden Jokowi Tegaskan Tidak Akan Ikut Berkampanye

Reporter: Gung Krisna