Denpasar – Pegiat Lingkungan Hidup sekaligus Pengurus Ikatan Sosiologi Indonesia Wilayah Bali, I Nyoman Gede Riki Tresno Linggih minta Pemerintah Kota Denpasar konsisten atasi masalah sampah. Hal tersebut disampaikan Linggih lantaran setiap hari volume sampah semakin meningkat khusus di kota Denpasar.

“Jadi semua ini karena ketidakkonsistenan terhadap penanganan sampah. Jadi kalau kita sudah buat berbagai macam peraturan pengelolaan sampah tapi kemudian tidak diterapkan sama saja. Jadi peraturan banyak tapi tidak diterapkan sama halnya dengan rugi,” kata Gede Sutrisna Linggih kepada wacanabali.com via WhatsApp pada Senin (1/4/24).

Selanjutnya, kata dia, salah satu masalah pengelolaan masalah adalah masalah pemilahan. Linggih sarankan Pemerintah Kota Denpasar harus lebih intens menangani masalah sampah.

Baca Juga  Wacana Pilpres Satu Putaran, Bro Agung: Masyarakat Ingin Perubahan

“Kondisi kita di kota Denpasar memang belum bisa memilah sampah organik, anorganik dan residu, disitulah harusnya peran aktif pemerintah dimana pemerintah Kota Denpasar sudah mengeluarkan peraturan-peraturan baik penanganan sampah plastik, lalu ada sistem pemilahan, namun belum efektif. Karena itu dinas terkait seperti DLHK harus bergandengan Satpol PP untuk penanganan sampah,” lanjutnya

Selain itu, Linggih mengatakan pemerintah kota Denpasar harus konsen menangani masalah sampah plastik. Dirinya sarankan agar Pemkot Denpasar membuat bank sampah di setiap desa.

“Sampah yang paling dominan itu sampah plastik, ini harus dibuatkan peraturan adanya sumbidi kepada bank sampah digaungkan dibuatkan bank sampah disetiap cabang di desa-desa,” tuturnya

Baca Juga  Tok! Pemkot Denpasar Tetapkan Pajak Hiburan 15 Persen

“Dengan begitu, setiap desa akan mengelola sampahnya masing-masing. Sehingga proses pemilihan sudah dimulai di desa tersebut. Pada saat dibawa ke TPA sampahnya sudah dipilah,” jelasnya

Meski begitu, dirinya juga minta agar pemerintah kota Denpasar siapkan sarana prasarana yang memadai untuk pengelolaan sampah.

Lalu pemilahan kalau sarana dan prasarana tidak cukup, tidak bisa. Karena kembali lagi di TPS3R disiapkan mesin cacah kan 250 kilo sedangkan sampah yang masuk sehari 1-2 ton. Kalau pemerintah konsisten menyelesaikan sampah, berikan subsidi biar desa yang mengatur sampahnya,” tandasnya.

Reporter: Yulius N