Jembrana – Bupati Jembrana dua periode (2000-2005, 2005-2010), Prof I Gede Winasa resmi bebas bersyarat, Jumat 5 Juli 2024 setelah menjalani 10 tahun hukuman penjara di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II B Negara, Jembrana.

Gede Winasa keluar sekitar pukul 18.50 wita setelah Rutan Negara menerima surat keputusan (SK) dari pusat.

Winasa didampingi oleh anaknya yang merupakan Wakil Bupati Jembrana I Gede Ngurah Patriana Krisna beserta keluarga dan kuasa hukum serta disambut simpatisannya yang berbaju merah di luar kawasan Rutan Negara.

Saat ditanya awak media keluar dari pintu Rutan Negara I Gede Winasa hanya mengatakan dirinya sehat. “Astungkara saya sehat,” singkatnya dan langsung masuk ke kendaraan yang dipakai menjemput dirinya bersama kuasa hukumnya, Jumat (5/7/2024).

Sesampainya di kediamanya di kelurahan Tegalcangkring, Kecamatan Mendoyo, kabupaten Jembrana, Gede Winasa disambut antusias oleh warga sekitar. Mereka berbondong-bondong datang sebelum Winasa tiba di kediamannya.

Baca Juga  Terima Uang Pengganti dan Denda 3,8 Miliar Lebih, Begini Penjelasan Kajari Jembrana

Saat dikonfirmasi Karutan Kelas II B Negara Lilik Subagiyono mengatakan, I Gede Winasa telah membayar uang denda dan uang pengganti sehingga bisa bebas bersyarat.

“Hari ini beliau bisa bebas bersyarat setelah kita usulkan ke pusat. Sekitar pukul 17.27 wita SK nya keluar dan beliau keluar dari Rutan sekitar pukul 18.50 wita,” terangnya.

Dalam hal ini, lanjut Lilik, pihaknya sudah melaksanakan sesuai prosedur yang sudah ditentukan untuk pembebasan I Gede Winasa.

“Berkas sudah lengkap semua dan tidak ada kekurangan suatu apapun semua sesuai prosedur. Sebelum pembebasan kita sudah memberikan arahan bahwa yang bersangkutan tetap di masyarakat berkelakuan baik dan tidak melakukan suatu pelanggaran apapun, komitmennya seperti itu. Untuk pembinaan lanjutan yang bertanggung jawab Lapas Kerobokan Denpasar,” ucapnya.

Baca Juga  Pihak Rutan Negara Sebut Winasa tak Langsung Bebas

Lilik mengungkapkan, Gede Winasa menjalani pidana selama 13 tahun dan sudah dijalani selama 7 tahun.

“Kita mengajukan berkas usulan pembebasan ke pusat setelah yang bersangkutan membayar uang denda dan uang ganti rugi berjalan dengan lancar. Selama ini yang beliau selama menjalani hukuman di Rutan Negara berkelakuan baik, baik sesama narapidana maupun kepada petugas,” terangnya.

Seperti diketahui, Gede Winasa dihukum atas tiga perkara korupsi, yakni perkara korupsi pengadaan kompos, perjalanan dinas dan beasiswa STIKES dan STIINA.

Dari tiga kasus korupsi, total hukuman yang harus dijalani selama 15 tahun 6 bulan, belum ditambah subsider. Kasus korupsi pengadaan kompos selama 2,5 tahun sudah selesai dijalani.

Dari dua kasus lainnya, Winasa menjalani hukuman selama 13 tahun. Rinciannya, kasus perjalanan dinas selama 6 tahun pidana penjara, denda Rp 200 juta subsider 6 bulan.

Baca Juga  Serahkan Uang Pengganti, PH Harap Winasa Segera Bebas

Ditambah pidana tambahan membayar uang pengganti sebesar Rp 797.554.800. Apabila uang pengganti tidak dibayar diganti dengan pidana penjara selama 3 tahun.

Sedangkan kasus korupsi beasiswa STIKES dan STIINA, Winasa dipidana penjara selama tujuh tahun. Winasa juga harus membayar denda Rp 500 juta, jika tidak membayar denda diganti 8 bulan penjara.

Pidana tambahan membayar uang pengganti kerugian negara Rp 2.322.000.000. Jika tidak membayar ganti rugi maka diganti dengan pidana penjara selama 3 tahun.

Sebelumnya santer disebut-sebut Gede Winasa adalah korban politik kala itu. Kasus yang dihadapinya disinyalir terkait dengan konstelasi pertarungan politik jelang pemilihan Gubernur Bali 2013. Saat itu, Winasa dikatakan menjadi salah satu kandidat kuat calon Gubernur Bali.