Refleksi WSPD: Pentingnya Support System, Pola Hidup Sehat, dan Akses Layanan Kesehatan Mental
Denpasar – Persoalan bunuh diri menjadi isu serius setiap tahunnya. Berbagai upaya diperlukan sebagai upaya pencegahan sekaligus penanganan hal tersebut. Maka dari itu, hingga kini, 10 September diperingati sebagai Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia atau World Suicide Prevention Day (WSPD).
Teranyar, merujuk pada data Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Kepolisian RI (Polri), Bali tempati urutan ketiga untuk kasus bunuh diri tertinggi di Indonesia.
Dalam berita yang sebelumnya ditayangkan Wacanabali.com, Dokter Ahli Jiwa HMD Sugiharta Yasa, SpKJ menjelaskan, seseorang biasanya terdorong untuk melakukan tindakan bunuh diri karena adanya stressor. Sehingga, dalam upaya preventifnya, peran dan dukungan lingkungan sekitar sangat diperlukan.
Lebih lanjut, pihaknya mengimbau masyarakat tidak menghakimi orang-orang yang sedang menceritakan keluh kesahnya khususnya terkait dengan keinginan mengakhiri hidup.
“Yang terpenting adalah kita bisa menjadi pendengar yang baik tanpa menghakimi. Kalau masih ada yang mengganjal kemudian bisa melakukan konsultasi kepada tenaga profesional untuk memperoleh penanganan,” sambungnya saat diwawancarai Wacanabali.com, Selasa (27/3/24).
Selain langkah-langkah tersebut, Sugiharta menyarankan masyarakat mula menerapkan pola hidup sehat. Hal ini akan sangat berpengaruh bagi kesehatan individu secara holistik, sebab pola hidup yang tidak sehat memungkinkan seseorang terkena stress lebih tinggi. Sehingga, hal ini dikhawatirkan menjadi pemicu keinginan untuk melakukan bunuh diri pada seseorang.
Selain itu, pola hidup tidak sehat disebutkan Sugiharta cenderung mempengaruhi trend bunuh diri di masyarakat. Sebagai contoh, individu yang tidak menerapkan pola hidup sehat cenderung lebih mudah terkena stress. Hal inilah yang biasanya menjadi stressor terhadap perilaku bunuh diri seseorang.
Reporter: Komang Ari

Tinggalkan Balasan