Wacanabali.com, Denpasar – Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Denpasar kembali menghadirkan solusi bagi umat Hindu melalui pelaksanaan Manusa Yadnya Bersama. Kegiatan ini menjadi upaya untuk meringankan umat dalam melaksanakan tahapan yadnya bagi anak-anak sekaligus menjawab anggapan bahwa pelaksanaan yadnya identik dengan biaya mahal dan proses yang rumit.

Ketua PHDI Kota Denpasar Dr. I Made Arka, S.Pd., M.Pd., mengatakan Manusa Yadnya Bersama merupakan bentuk pelayanan kepada umat Hindu di Kota Denpasar dan sekitarnya. Hal tersebut disampaikannya saat rapat persiapan kegiatan di Kantor PHDI Kota Denpasar, Taman Kota Lumintang Denpasar, Rabu (16/9).

“Adanya anggapan bahwa yadnya dalam agama Hindu itu ribet dan memberatkan kami jawab dengan pelaksanaan manusa yadnya bersama ini,” ujar Made Arka didampingi Ketua Panitia Putu Danis Rumanggi, SH., MH., MH.Kes.

Baca Juga  Tahun Politik, PHDI Bali Soroti Kampanye Berbau Agama

Dalam kegiatan tersebut, PHDI Kota Denpasar akan melaksanakan Upacara Menek Kelih, Pewintenan Saraswati, dan Metatah Massal. Ketiga rangkaian tersebut digelar sebagai bentuk pelayanan sekaligus membantu umat Hindu dalam menuntaskan kewajiban Manusa Yadnya kepada anak-anaknya.

Made Arka menjelaskan, pelaksanaan secara bersama tidak hanya bertujuan meringankan umat dari sisi biaya dan teknis pelaksanaan, tetapi juga menjadi perwujudan semangat gotong royong dan Vasudhaiva Kutumbhakam.

“Dengan semangat bergotong royong, umat dapat mengikuti upacara manusa yadnya ini dengan ringan dan mudah, tidak ribet,” jelasnya.

Besaran punia bagi umat yang mengikuti kegiatan tersebut diserahkan kepada kerelaan dan keikhlasan masing-masing. Menurut Made Arka, konsep tersebut diharapkan dapat menciptakan subsidi silang sehingga umat yang memiliki kemampuan lebih dapat membantu umat lainnya.

Baca Juga  Dilarang Nampah Babi Karena Berbarengan dengan Purnama, Ini Kata PHDI

“Punia yang diberikan sejatinya sebagai wujud bhakti persembahan kepada para leluhur yang turun kepada anak-anak kita sehingga besarannya disesuaikan dengan kemampuan,” tegasnya.

Selain meringankan umat, Manusa Yadnya Bersama juga diharapkan menjadi solusi bagi warga perantauan maupun warga transmigran yang tidak menjadi warga di wilayah desa adat di Bali maupun Kota Denpasar.

PHDI Kota Denpasar juga membuka ruang partisipasi masyarakat dan pihak swasta melalui donasi maupun sponsorship untuk mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut. Panitia juga turut bergotong royong dengan memberikan punia demi kelancaran pelayanan kepada umat.

Sementara itu, Ketua Panitia Putu Danis Rumanggi berharap seluruh peserta mengikuti ketentuan yang telah disepakati, termasuk dalam penggunaan busana sembahyang.

“Pedoman pakaian dibuat sebagai upaya kebersamaan dan kesederhanaan, agar inti pelaksanaan yadnya dapat berlangsung dengan khidmat dan penuh bhakti,” ujar Danis.

Baca Juga  BTID Disebut Langgar Batas Kesucian Pura

Peserta nantinya akan mendapatkan informasi teknis melalui technical meeting sebelum pelaksanaan. Panitia juga akan memasukkan peserta yang telah terdaftar ke dalam grup WhatsApp untuk mempermudah koordinasi dan komunikasi.

Dalam pelaksanaannya, pemuput upacara akan melibatkan para pinandita dari berbagai soroh atau pasemetonan di Bali. Keterlibatan tersebut diharapkan memberikan nilai sakral sekaligus memperlihatkan keberagaman dalam pelaksanaan Manusa Yadnya Bersama.

Kegiatan ini rencananya dilaksanakan di Wantilan Pura Lokananta Denpasar pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Pendaftaran dibuka bagi seluruh umat Hindu di Kota Denpasar dan sekitarnya.

Umat yang ingin mengikuti kegiatan tersebut dapat memperoleh informasi dan melakukan pendaftaran melalui kontak Tu Riska di nomor 0857-9265-5761 atau Esa di nomor 0857-9266-5761.