Buka APNHR 2026, Koster: Bali Tak Ingin Bangun Masa Depan dengan Tinggalkan Masa Lalu
Wacanabali.com, Denpasar – Gubernur Bali, Wayan Koster resmi membuka Asia-Pacific Network For House Research (APNHR) Conference 2026 yang diselenggarakan di Gedung MICE Widyatula Politeknik Pariwisata Bali, Senin (5/10/2026).
Konferensi internasional ini mulai berlangsung pada 5–7 Oktober 2026, dengan mengusung tema Navigating Asia-Pacific Housing Futures: Financialization, Technology, Governance, and Climate Action.
Dalam sambutannya, Gubernur Koster menegaskan Bali tidak ingin membangun masa depan dengan meninggalkan masa lalunya.
Dalam konteks perumahan, Ia menekankan, Bali tidak hanya ingin membangun lebih banyak rumah, tetapi membangun tempat hidup yang lebih baik.
“Bali ingin membangun masa depan dengan mengambil nilai terbaik dari masa lalu untuk menjawab kebutuhan masa kini, menyiapkan kehidupan yang lebih baik bagi generasi mendatang. Itulah makna Bali masa depan,” ujar Koster.
Sebab menurutnya, pembangunan bukan tentang berapa banyak bangunan, melainkan tentang kehidupan seperti apa yang diwariskan.
“Kita tidak hanya ingin menata permukiman, tetapi menata kehidupan. Kita tidak hanya ingin membuat Bali tumbuh, tetapi memastikan Bali tetap hidup,” tegasnya.
Karena itu, Koster mengajak seluruh pihak membangun perumahan yang tidak hanya layak dihuni, tetapi juga layak diwariskan dengan berlandaskan semangat Nangun Sat Kerthi Loka Bali.
“Mari kita bangun perumahan yang bukan hanya layak huni, tetapi juga layak diwariskan, yang aman, ruang yang tertata, alam yang terjaga, budaya yang hidup, dan manusia yang sejahtera,” tandasnya.
Sementara itu, Chair of the Organising Commite APNHR Conference 2026, Ir. Sugiyantoro menjelaskan bahwa konferensi ini menjadi sangat berarti karena mempertemukan berbagai perspektif mengenai perumahan, teknologi, pemerintahan, keadilan sosial, serta pembangunan regional di kawasan Asia Pasifik.
Menurutnya, di seluruh wilayah setiap keluarga seharusnya memiliki akses terhadap rumah yang aman, terjangkau, dan terhubung dengan berbagai kesempatan. Namun, kondisi untuk mewujudkan aspirasi tersebut menjadi semakin kompleks.
“Konferensi ini hadir untuk membahas bagaimana masa depan perumahan di kawasan Asia Pasifik dipengaruhi oleh finansialisasi, teknologi, tata kelola, dan aksi terhadap perubahan iklim,” jelasnya.
Ia menggambarkak situasi ini dengan istilah polikrisis, dimana berbagai krisis saling berkaitan dan saling memengaruhi.
“Krisis perumahan, misalnya, tidak dapat dipisahkan dari perubahan demografi dan pasar properti,” imbuhnya.
Transformasi digital juga, kata dia, telah mengubah pembiayaan rumah tangga, pengelolaan properti, sistem data, serta pelayanan publik. Tata kelola harus bekerja lintas sektor dan lintas tingkatan pemerintahan.
Sementara itu, perubahan iklim meningkatkan kerentanan rumah tangga dan permukiman terhadap banjir, gelombang panas, bencana alam, kenaikan muka air laut, serta berbagai risiko lainnya.
“Karena semuanya saling berkaitan, respons kita juga harus terintegrasi. Oleh karena itu, APNHR Conference 2026 di Bali dirancang sebagai lebih dari sekadar konferensi akademik,” jelasnya.
Untuk diketahui, Konferensi Internasional ini mempertemukan akademisi, peneliti, pemerintah, praktisi dunia usaha, lembaga riset, dan berbagai pemangku kepentingan untuk membicarakan masa depan perumahan dan permukiman di kawasan Asia-Pasifik.
Reporter: Yulius N

Tinggalkan Balasan