Mahasiswa NTT Unwar Diminta Jadi Generasi Berkarakter dan Berintegritas
Wacanabali.com, Denpasar – Dosen Fakultas Hukum Universitas Warmadewa (Unwar), Dr. Simon Nahak, S.H., M.H., menekankan pentingnya membangun karakter dan integritas moral bagi mahasiswa, khususnya mahasiswa asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menempuh pendidikan di Universitas Warmadewa.
Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya memiliki pengetahuan akademik, tetapi juga harus dibekali keberanian, pengalaman, keterampilan dan karakter yang kuat agar mampu menjadi generasi yang berguna bagi masyarakat, bangsa dan negara.
Pesan tersebut disampaikan saat menjadi pemateri dalam kegiatan Penerimaan Insan Baru Keluarga Permata (PILAR), di Kembengan Sari, Petang, Kabupaten Badung, Sabtu (7/11/2026.
Dalam pemaparannya, Ia mengingatkan pentingnya menjaga identitas kebangsaan dan budaya lokal dalam menjalankan kehidupan beragama. Ia mengutip pesan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, yang menekankan bahwa identitas keagamaan tidak seharusnya menghilangkan jati diri sebagai bangsa Indonesia.
“Kalau jadi Hindu jangan jadi orang India. Kalau jadi Islam jangan jadi orang Arab. Kalau jadi orang Kristen jangan jadi orang Yahudi. Tetaplah jadi orang Indonesia dengan adat budaya Nusantara yang kaya raya ini,” demikian pesan Soekarno yang dikutip Mantan Bupati Malaka itu.
Menurut Simon, pesan tersebut mengandung makna bahwa keberagaman agama harus berjalan seiring dengan kecintaan terhadap tanah air, adat istiadat, dan kebudayaan Nusantara. Mahasiswa perlu memiliki identitas yang kuat tanpa harus kehilangan nilai-nilai kebangsaan.
Ia juga mengingatkan besarnya potensi generasi muda dalam membawa perubahan. Simon mengutip ungkapan Soekarno,
“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia,” katanya lagi mengutip pesan Soekarno.
Bagi Simon, kutipan tersebut menggambarkan bahwa pemuda memiliki energi, semangat, idealisme, dan keberanian untuk menciptakan perubahan besar. Karena itu, mahasiswa harus mampu memanfaatkan masa mudanya untuk mengembangkan kapasitas diri dan memberikan kontribusi positif bagi lingkungan.
Selain Soekarno, Simon juga mengangkat pemikiran Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy, yakni “Ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country.”
Pesan tersebut mengajak setiap generasi muda untuk tidak hanya menuntut apa yang diberikan negara, tetapi juga memikirkan kontribusi yang dapat diberikan kepada bangsa.
Pendidikan Harus Membentuk Karakter
Secara filosofis, Simon menjelaskan bahwa pendidikan yang berakar pada budaya dan terus bertumbuh merupakan fondasi penting dalam membangun karakter, identitas, serta daya saing generasi muda.
Ia mengaitkan hal tersebut dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara, bahwa pendidikan tidak boleh mencabut peserta didik dari akar kebudayaannya. Nilai-nilai lokal, bahasa, seni, sejarah, serta semangat gotong royong harus menjadi bagian penting dalam proses pembentukan jati diri.
Di sisi lain, perkembangan zaman, termasuk teknologi digital, harus dimanfaatkan sebagai sarana meningkatkan kemampuan dan pengetahuan, bukan justru melemahkan karakter generasi muda.
Simon juga menekankan pentingnya pola pikir bertumbuh atau growth mindset. Mahasiswa harus berani berpikir kritis, mandiri, terbuka terhadap perubahan, dan terus mengembangkan potensi yang dimiliki.
Dalam konteks kehidupan berbangsa, ia mengingatkan bahwa Pancasila merupakan dasar negara sekaligus ideologi pemersatu yang mengakomodasi keberagaman suku, agama, budaya, dan bahasa.
Nilai Persatuan Indonesia serta semboyan Bhinneka Tunggal Ika harus menjadi pedoman dalam membangun kehidupan yang harmonis. Perbedaan bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk membangun kebersamaan.
Simon juga memperkenalkan prinsip Latin Bonum Commune Suprema Lex, yang bermakna kebaikan bersama atau kepentingan umum merupakan hukum tertinggi.
Prinsip tersebut menegaskan bahwa kehidupan bermasyarakat dan bernegara harus mengutamakan kesejahteraan bersama, bukan kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu.
Jangan Terjebak Kesenjangan antara Das Sollen dan Das Sein
Dari perspektif empiris, Simon mengajak mahasiswa memahami perbedaan antara Das Sollen dan Das Sein dalam kehidupan sehari-hari.
Das Sollen merupakan keadaan yang seharusnya terjadi berdasarkan norma, aturan, dan cita-cita hukum. Sementara Das Sein adalah kenyataan yang benar-benar terjadi dalam kehidupan masyarakat.
Ia mencontohkan, secara normatif mahasiswa seharusnya menaati aturan, disiplin mengikuti perkuliahan, serta menjunjung tinggi nilai moral. Namun, dalam kenyataannya masih ditemukan mahasiswa yang bolos kuliah, mengonsumsi minuman keras, menggunakan narkoba, hingga bersikap dan bertindak secara tidak bertanggung jawab.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara nilai-nilai ideal yang seharusnya dijalankan dengan kenyataan di lapangan.
Karena itu, menurut Simon, mahasiswa harus mampu menerapkan nilai-nilai moral dan aturan dalam tindakan nyata. Integritas tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus dibuktikan melalui perilaku sehari-hari.
Pendidikan Memiliki Landasan Konstitusional
Secara yuridis, Simon menjelaskan bahwa pendidikan memiliki landasan kuat dalam UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, khususnya Pasal 28C Ayat (1) dan Pasal 31.
Pasal 31 UUD 1945 menegaskan hak setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan. Pendidikan juga diarahkan untuk meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Selain itu, Pasal 32 UUD 1945 menegaskan peran negara dalam memajukan kebudayaan nasional serta menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya bangsa.
Landasan tersebut diperkuat melalui Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam ketentuan tersebut, pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan serta membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermartabat.
Adapun tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.
Pesan Khusus untuk Mahasiswa NTT Unwar
Menutup pemaparannya, Simon memberikan pesan khusus kepada mahasiswa asal NTT yang menempuh pendidikan di Universitas Warmadewa agar senantiasa menjaga integritas diri di mana pun berada.
Ia berharap mahasiswa maupun alumni NTT Unwar tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki keberanian, pengetahuan, pengalaman, keterampilan, karakter, serta integritas moral yang baik.
Dengan demikian, mereka dapat tumbuh menjadi pribadi yang mampu membawa nama baik almamater, memberikan manfaat bagi masyarakat, serta berkontribusi bagi pembangunan daerah dan bangsa.
Menurut Simon, menjadi mahasiswa bukan sekadar menjalani proses perkuliahan untuk memperoleh gelar akademik. Lebih dari itu, masa pendidikan merupakan kesempatan membentuk kepribadian, memperkuat nilai moral, dan mempersiapkan diri menjadi manusia yang bertanggung jawab.
“Mahasiswa NTT Unwar harus tetap menjaga integritas diri di mana pun berada agar menjadi mahasiswa dan alumni yang mempunyai keberanian, pengetahuan, pengalaman, keterampilan, berkarakter, dan berintegritas moral yang baik serta menjadi manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa,” pungkasnya.
Reporter: Yulius N

Tinggalkan Balasan