Putri Koster Dorong Anggrek Lokal Bali Kembali Jadi Primadona di Daerah Asalnya
Wacanabali.com, Denpasar – Ketua DPD Persatuan Anggrek Indonesia (PAI) Bali, Putri Koster, mendorong anggrek lokal Bali kembali menjadi primadona di daerah asalnya. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan konservasi dan pengembangan sumber daya genetik anggrek lokal Bali.
Hal tersebut disampaikan Putri Koster saat menjadi keynote speaker dalam Focus Group Discussion (FGD) Adaptasi dan Pengembangan Sumber Daya Genetik Anggrek Lokal Bali yang berlangsung di Aula Gedung Pascasarjana Universitas Udayana, Selasa (8/9/2026).
Putri Koster mengatakan, saat ini PAI Bali tengah memberikan perhatian lebih terhadap pelestarian anggrek lokal, terutama pada sektor hulu. Menurutnya, konservasi dan pengembangan sumber daya genetik menjadi langkah penting untuk menjaga keberadaan berbagai jenis anggrek asli Bali.
Ia menyebutkan, sejumlah anggrek lokal seperti anggrek linjong dan anggrek Vanda tricolor sebelumnya cukup banyak dijumpai di rumah-rumah masyarakat Bali. Namun, seiring berjalannya waktu, keberadaan anggrek tersebut semakin berkurang karena mulai kurang diminati dan perlahan ditinggalkan.
“Banyak sekali anggrek lokal Bali, seperti anggrek linjong, anggrek Vanda tricolor, dan lainnya, yang dahulu banyak dijumpai di rumah-rumah masyarakat. Namun, setelah berpuluh-puluh tahun, keberadaannya mulai berkurang, kurang diminati, dan perlahan ditinggalkan,” ujar Putri Koster.
Melalui tajuk “Anggrek Kembali”, Putri Koster berharap anggrek lokal Bali dapat kembali mendapat tempat di tengah masyarakat. Tidak hanya sebagai tanaman hias, keberadaan anggrek lokal juga dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bagian dari sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Untuk mewujudkan hal tersebut, PAI Bali menggandeng Fakultas Pertanian Universitas Udayana, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali, BRIN, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Dinas Pariwisata Provinsi Bali, serta BRIDA Provinsi Bali.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk melakukan identifikasi, karakterisasi, konservasi, adaptasi, hingga pengembangan anggrek lokal Bali agar memiliki nilai tambah dan semakin diminati masyarakat.
Dekan Fakultas Pertanian Universitas Udayana, I Putu Sudiarta, mengatakan sejumlah upaya yang dapat dilakukan mencakup adaptasi dan pengembangan sumber daya genetik anggrek lokal Bali, perbanyakan secara massal, serta pengembangan anggrek lokal Bali.
Selain itu, Fakultas Pertanian Unud juga mendorong pengembangan desa wisata anggrek di Dusun Dosang, Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng.
Menurutnya, anggrek lokal Bali memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi daya tarik wisata dengan keunikan tersendiri. Pengembangan tersebut diharapkan tidak hanya berorientasi pada pelestarian, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Pengembangan anggrek lokal Bali diharapkan dapat menjadi salah satu motor penggerak kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan dan berkeadilan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, I Wayan Sunada, menyampaikan bahwa anggrek merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi, estetika, sekaligus budaya.
Selain memiliki nilai sebagai tanaman hias, anggrek juga dinilai memiliki potensi sebagai sumber daya genetik yang dapat dikembangkan menjadi varietas unggul pada masa mendatang.
FGD tersebut menjadi ruang untuk membahas berbagai langkah strategis, mulai dari identifikasi dan karakterisasi anggrek lokal Bali, strategi konservasi dan pelestarian, hingga pengembangan yang dapat memberikan manfaat lebih luas.
Kegiatan ini juga menjadi wadah pertukaran informasi dan gagasan antara akademisi, peneliti, pemerintah, serta pemangku kepentingan lainnya.
FGD menghadirkan tiga narasumber, yakni Aninda Retno Utami Wibowo dari BRIN, Made Dwi Jayanti dari BKSDA Bali, dan Dr. I Putu Sudana dari Fakultas Pariwisata Universitas Udayana.
Putri Koster berharap pembahasan mengenai anggrek lokal Bali tidak berhenti pada aspek penelitian. Hasil FGD diharapkan dapat ditindaklanjuti melalui program pengembangan yang konkret, sehingga upaya pelestarian anggrek lokal sekaligus mampu membuka peluang ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Bali.

Tinggalkan Balasan