Denpasar – Penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) belakangan santer digaungkan lantaran dinilai lebih ramah lingkungan.

Menurut Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Bali Ida Bagus Setiawan, transisi ke energi bersih seperti PLTS mulai berkembang.

“Antusiasme (masyarakat) ada, namun tantangannya terhadap keberlanjutan dan investasi,” ucapnya saat dihubungi, Rabu (16/4/25).

Ia menekankan bahwa selain ramah lingkungan, penggunaan PLTS juga lebih hemat secara ekonomi.

Untuk itu, berbagai instansi pemerintah di Bali telah memulai pemasangan PLTS, seperti di Kantor DPRD Bali, RS Bali Mandara, Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup, hingga sekolah-sekolah kejuruan.

“Harapan kami semakin banyak pengguna, sedang diupayakan skema virtual power plant dengan PLN,” sambungnya.

Baca Juga  Made Satria Paparkan Potensi Nusa Penida Buat PAD Klungkung

Tak hanya pemerintah, Desa Adat Intaran di Sanur, menjadi salah satu desa yang menggunakan PLTS.

Menurut Petajuh Pengeraksa BUPDA Intaran, I Wayan Robi Suryana, pemasangan PLTS atap di kawasan tersebut merupakan bantuan dari lembaga non-profit bernama WRI Indonesia dan didukung oleh bank HSBC sejak 2024.

PLTS terpasang di sejumlah titik, peruntukannya pun beragam mulai dari penerangan pasar, TPS3R, pengairan subak, bahkan untuk operasional perahu.

Robi menilai, langkah ini secara tidak langsung membangun kesadaran warga untuk mengurangi emisi karbon.

“Secara awareness masyarakat sudah mulai paham. Misalnya di Subak, mereka melihat langsung manfaat PLTS, lalu mulai tertarik memasang sendiri. Tim kami, yang sebelumnya sudah dilatih, mulai membantu masyarakat memasang PLTS skala kecil,” jelas Robi.

Baca Juga  Made Satria Paparkan Potensi Nusa Penida Buat PAD Klungkung

“Yang lebih penting dari sekadar efisiensi listrik adalah perubahan perilaku. Dampak itu yang paling berarti bagi kami di tingkat desa dan masyarakat,” tutupnya.

Reporter: Komang Ari